9 Teori Motivasi

1. Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)

Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu :

(1) kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex;

(2) kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual;

(3) kebutuhan akan kasih sayang (love needs);

(4) kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan

(5) aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.

Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat pskologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual.

Menarik pula untuk dicatat bahwa dengan makin banyaknya organisasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan makin mendalamnya pemahaman tentang unsur manusia dalam kehidupan organisasional, teori “klasik” Maslow semakin dipergunakan, bahkan dikatakan mengalami “koreksi”. Penyempurnaan atau “koreksi” tersebut terutama diarahkan pada konsep “hierarki kebutuhan “ yang dikemukakan oleh Maslow. Istilah “hierarki” dapat diartikan sebagai tingkatan. Atau secara analogi berarti anak tangga.

Logikanya ialah bahwa menaiki suatu tangga berarti dimulai dengan anak tangga yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Jika konsep tersebut diaplikasikan pada pemuasan kebutuhan manusia, berarti seseorang tidak akan berusaha memuaskan kebutuhan tingkat kedua,- dalam hal ini keamanan- sebelum kebutuhan tingkat pertama yaitu sandang, pangan, dan papan terpenuhi; yang ketiga tidak akan diusahakan pemuasan sebelum seseorang merasa aman, demikian pula seterusnya.

Berangkat dari kenyataan bahwa pemahaman tentang berbagai kebutuhan manusia makin mendalam penyempurnaan dan “koreksi” dirasakan bukan hanya tepat, akan tetapi juga memang diperlukan karena pengalaman menunjukkan bahwa usaha pemuasan berbagai kebutuhan manusia berlangsung secara simultan. Artinya, sambil memuaskan kebutuhan fisik, seseorang pada waktu yang bersamaan ingin menikmati rasa aman, merasa dihargai, memerlukan teman serta ingin berkembang.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lebih tepat apabila berbagai kebutuhan manusia digolongkan sebagai rangkaian dan bukan sebagai hierarki. Dalam hubungan ini, perlu ditekankan bahwa :

a. Kebutuhan yang satu saat sudah terpenuhi sangat mungkin akan timbul lagi di waktu yang akan datang;

b. Pemuasaan berbagai kebutuhan tertentu, terutama kebutuhan fisik, bisa bergeser dari pendekatan kuantitatif menjadi pendekatan kualitatif dalam pemuasannya.

c. Berbagai kebutuhan tersebut tidak akan mencapai “titik jenuh” dalam arti tibanya suatu kondisi dalam mana seseorang tidak lagi dapat berbuat sesuatu dalam pemenuhan kebutuhan itu.

Kendati pemikiran Maslow tentang teori kebutuhan ini tampak lebih bersifat teoritis, namun telah memberikan fundasi dan mengilhami bagi pengembangan teori-teori motivasi yang berorientasi pada kebutuhan berikutnya yang lebih bersifat aplikatif..

2. Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)

Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan :“ Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku. Mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.”
Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu :

(1) sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat;

(2) menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain, seperti kemujuran misalnya; dan

(3) menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah.


3. Teori Clyton Alderfer (Teori “ERG)

Teori Alderfer dikenal dengan akronim “ERG” . Akronim “ERG” dalam teori Alderfer merupakan huruf-huruf pertama dari tiga istilah yaitu : E = Existence (kebutuhan akan eksistensi), R = Relatedness (kebutuhanuntuk berhubungan dengan pihak lain, dan G = Growth (kebutuhan akan pertumbuhan)

Jika makna tiga istilah tersebut didalami akan tampak dua hal penting. Pertama, secara konseptual terdapat persamaan antara teori atau model yang dikembangkan oleh Maslow dan Alderfer. Karena “Existence” dapat dikatakan identik dengan hierarki pertama dan kedua dalam teori Maslow; “ Relatedness” senada dengan hierarki kebutuhan ketiga dan keempat menurut konsep Maslow dan “Growth” mengandung makna sama dengan “self actualization” menurut Maslow. Kedua, teori Alderfer menekankan bahwa berbagai jenis kebutuhan manusia itu diusahakan pemuasannya secara serentak.

Apabila teori Alderfer disimak lebih lanjut akan tampak bahwa :
a. Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, makin besar pula keinginan untuk memuaskannya;

b. Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan yang “lebih tinggi” semakin besar apabila kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan;
c. Sebaliknya, semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar keinginan untuk memuasakan kebutuhan yang lebih mendasar.

Tampaknya pandangan ini didasarkan kepada sifat pragmatisme oleh manusia. Artinya, karena menyadari keterbatasannya, seseorang dapat menyesuaikan diri pada kondisi obyektif yang dihadapinya dengan antara lain memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang mungkin dicapainya.

4. Teori Herzberg (Teori Dua Faktor)

Ilmuwan ketiga yang diakui telah memberikan kontribusi penting dalam pemahaman motivasi Herzberg. Teori yang dikembangkannya dikenal dengan “ Model Dua Faktor” dari motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau “pemeliharaan”.

Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang.

Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku.

Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik.

5. Teori Keadilan

Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa manusia terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. Artinya, apabila seorang pegawai mempunyai persepsi bahwa imbalan yang diterimanya tidak memadai, dua kemungkinan dapat terjadi, yaitu :

a. Seorang akan berusaha memperoleh imbalan yang lebih besar, atau
b. Mengurangi intensitas usaha yang dibuat dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.

Dalam menumbuhkan persepsi tertentu, seorang pegawai biasanya menggunakan empat hal sebagai pembanding, yaitu :

a. Harapannya tentang jumlah imbalan yang dianggapnya layak diterima berdasarkan kualifikasi pribadi, seperti pendidikan, keterampilan, sifat pekerjaan dan pengalamannya;

b. Imbalan yang diterima oleh orang lain dalam organisasi yang kualifikasi dan sifat pekerjaannnya relatif sama dengan yang bersangkutan sendiri;

c. Imbalan yang diterima oleh pegawai lain di organisasi lain di kawasan yang sama serta melakukan kegiatan sejenis;

d. Peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai jumlah dan jenis imbalan yang merupakan hak para pegawai
Pemeliharaan hubungan dengan pegawai dalam kaitan ini berarti bahwa para pejabat dan petugas di bagian kepegawaian harus selalu waspada jangan sampai persepsi ketidakadilan timbul, apalagi meluas di kalangan para pegawai.

Apabila sampai terjadi maka akan timbul berbagai dampak negatif bagi organisasi, seperti ketidakpuasan, tingkat kemangkiran yang tinggi, sering terjadinya kecelakaan dalam penyelesaian tugas, seringnya para pegawai berbuat kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan masing-masing, pemogokan atau bahkan perpindahan pegawai ke organisasi lain.


6. Teori penetapan tujuan (goal setting theory)

Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni : (a) tujuan-tujuan mengarahkan perhatian; (b) tujuan-tujuan mengatur upaya; (c) tujuan-tujuan meningkatkan persistensi; dan (d) tujuan-tujuan menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan. Bagan berikut ini menyajikan tentang model instruktif tentang penetapan tujuan.

7. Teori Victor H. Vroom (Teori Harapan )

Victor H. Vroom, dalam bukunya yang berjudul “Work And Motivation” mengetengahkan suatu teori yang disebutnya sebagai “ Teori Harapan”. Menurut teori ini, motivasi merupakan akibat suatu hasil dari yang ingin dicapai oleh seorang dan perkiraan yang bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya itu. Artinya, apabila seseorang sangat menginginkan sesuatu, dan jalan tampaknya terbuka untuk memperolehnya, yang bersangkutan akan berupaya mendapatkannya.

Dinyatakan dengan cara yang sangat sederhana, teori harapan berkata bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Sebaliknya, jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah.

Di kalangan ilmuwan dan para praktisi manajemen sumber daya manusia teori harapan ini mempunyai daya tarik tersendiri karena penekanan tentang pentingnya bagian kepegawaian membantu para pegawai dalam menentukan hal-hal yang diinginkannya serta menunjukkan cara-cara yang paling tepat untuk mewujudkan keinginannnya itu. Penekanan ini dianggap penting karena pengalaman menunjukkan bahwa para pegawai tidak selalu mengetahui secara pasti apa yang diinginkannya, apalagi cara untuk memperolehnya.

8. Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku

Berbagai teori atau model motivasi yang telah dibahas di muka dapat digolongkan sebagai model kognitif motivasi karena didasarkan pada kebutuhan seseorang berdasarkan persepsi orang yang bersangkutan berarti sifatnya sangat subyektif. Perilakunya pun ditentukan oleh persepsi tersebut.
Padahal dalam kehidupan organisasional disadari dan diakui bahwa kehendak seseorang ditentukan pula oleh berbagai konsekwensi ekstrernal dari perilaku dan tindakannya. Artinya, dari berbagai faktor di luar diri seseorang turut berperan sebagai penentu dan pengubah perilaku.

Dalam hal ini berlakulah apaya yang dikenal dengan “hukum pengaruh” yang menyatakan bahwa manusia cenderung untuk mengulangi perilaku yang mempunyai konsekwensi yang menguntungkan dirinya dan mengelakkan perilaku yang mengibatkan perilaku yang mengakibatkan timbulnya konsekwensi yang merugikan.

Contoh yang sangat sederhana ialah seorang juru tik yang mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dalam waktu singkat. Juru tik tersebut mendapat pujian dari atasannya. Pujian tersebut berakibat pada kenaikan gaji yang dipercepat. Karena juru tik tersebut menyenangi konsekwensi perilakunya itu, ia lalu terdorong bukan hanya bekerja lebih tekun dan lebih teliti, akan tetapi bahkan berusaha meningkatkan keterampilannya, misalnya dengan belajar menggunakan komputer sehingga kemampuannya semakin bertambah, yang pada gilirannya diharapkan mempunyai konsekwensi positif lagi di kemudian hari.

Contoh sebaliknya ialah seorang pegawai yang datang terlambat berulangkali mendapat teguran dari atasannya, mungkin disertai ancaman akan dikenakan sanksi indisipliner. Teguran dan kemungkinan dikenakan sanksi sebagi konsekwensi negatif perilaku pegawai tersebut berakibat pada modifikasi perilakunya, yaitu datang tepat pada waktunya di tempat tugas.
Penting untuk diperhatikan bahwa agar cara-cara yang digunakan untuk modifikasi perilaku tetap memperhitungkan harkat dan martabat manusia yang harus selalu diakui dan dihormati, cara-cara tersebut ditempuh dengan “gaya” yang manusiawi pula.

9. Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi.

Bertitik tolak dari pandangan bahwa tidak ada satu model motivasi yang sempurna, dalam arti masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, para ilmuwan terus menerus berusaha mencari dan menemukan sistem motivasi yang terbaik, dalam arti menggabung berbagai kelebihan model-model tersebut menjadi satu model. Tampaknya terdapat kesepakan di kalangan para pakar bahwa model tersebut ialah apa yang tercakup dalam teori yang mengaitkan imbalan dengan prestasi seseorang individu .

Menurut model ini, motivasi seorang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Termasuk pada faktor internal adalah : (a) persepsi seseorang mengenai diri sendiri; (b) harga diri; (c) harapan pribadi; (d) kebutuhaan; (e) keinginan; (f) kepuasan kerja; (g) prestasi kerja yang dihasilkan.

Sedangkan faktor eksternal mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain ialah : (a) jenis dan sifat pekerjaan; (b) kelompok kerja dimana seseorang bergabung; (c) organisasi tempat bekerja; (d) situasi lingkungan pada umumnya; (e) sistem imbalan yang berlaku dan cara penerapannya.

Filsafat Kehidupan dan Kematian

Kehidupan Manusia

Teori Adam Manusia Pertama VS Teori Evolusi Darwin

Hingga saat ini ada dua teori besar tentang awal mula kehidupan manusia. Teoi pertama adalah kisah penciptaan nabi Adam sebagai manusia pertama yang diyakini oleh hampir semua pemeluk agama samawi (islam, kristen, yahudi) yang dilandasi pada penafsiran terhadap kitab suci yang mereka yakini kebenarannya. Kisah tersebut berisi keyakinan bahwa Adam diciptakan oleh Tuhan dari tanah liat yang dibentuk semisal sebuah boneka. Kemudian ditiupkan kepadanya ruh. Maka jadilah adam manusia dewasa yang hidup seketika itu juga. Selanjutnya di tempatkan di dalam surga. Tapi Adam merasa kesepian karena hanya seorang diri. Maka Tuhan pun menjadikan calon istrinya – Hawa. Caranya, Tuhan mengambil salah satu tulang rusuk Adam. Dari tulang rusuk Adam itulah kemudian tercipta Hawa sebagai manusia dewasa yang hidup.

Dogma Adam sebagai manusia pertama pun masih menimbulkan multi tafsir dari para agamawan, karena memang tidak ada ayat dalam kitab suci yang secara eksplisit menyatakan Adam sebagai manusia pertama, dan memunculkan beberapa pertanyaan besar; apakah Adam diciptakan atau dilahirkan? Apakah Adam hidup di zaman dinosaurus atau tidak? Apakah secara kemampuan “akal”, Adam merupakan manusia purba atau manusia modern?.

Teori kedua adalah teori evolusi Darwin, Charles Darwin menyatakan teori tesebut dalam buku “the Origin Species” dan “The Descent Man”, yang menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari sebuah spesies tunggal yang kemudian mengalami evolusi untuk mempertahankan hidupnya, sehingga manusia pun merupakan suatu bentuk/hasil dari proses evolusi yang berlangsung selama ribuan tahun tersebut. Bahkan secara eksplisit Darwin juga menyatakan bahwa manusia merupakan hasil evolusi dari kera. Teori ini menjadi kontroversi besar, dan mendapat penolakan terutama dari kaum agamawan.

Tidak hanya agamawan, para ilmuwan pun masih mempertanyakan keabsahan teori evolusi Darwin, karena hingga saat ini kera masih hidup berdampingan dengan manusia, sehingga tidak perlu melakukan evolusi. Teori Darwin yang menyatakan bahwa manusia adalah Evolusi dari kera atau keturunan kera adalah hal yang mustahil karena bertentangan dengan hukum genetika. Secara ilmu, gen kera akan melahirkan kera, gen manusia akan melahirkan manusia.

Perseteruan kedua teori besar tersebut sepertinya akan terus berlanjut, hingga suatu saat nanti manusia mampu menguraikan sejarah keturunan manusia melalui genetika DNA atau penemuan-penemuan lain tentang kehidupan manusia. Wallahu a’lam bishowab.

Namun secara pribadi sebagai seorang muslim, saya lebih tetarik untuk mencoba mempelajari kehidupan manusia melalui versi Alquran. Terutama setelah saya membaca sebuah artikel menarik di internet tentang pemikiran Al Kindi, seorang ahli filsafat islam yang mencoba menganalogikan ayat-ayat Alquran tentang kehidupan manusia.

Berikut cuplikan artikel tersebut:

FILSAFAT AL-NAFS (JIWA) AL-KINDI

Pada suatu kesempatan tuhan berwacana: “aku menciptakan menusia dari lempung busuk, dan kemudian berkata kepada malaikat : “aku ingin menciptakan menusia dari tanah”, dan kemudian ia berkata lagi : “apabila aku telah selesai membentuknya, barulah aku meniupkan ruh-ku kepadanya”. (QS.al-hijr:29). Apa yang dimaksudkan meniupkan tersebut ?. apabila yang dimaksudkan adalah tiupan (ruh) yang meninggalkan tuhan dan kemudian bersatu dangan manusia, maka intinya bahwa sangat dimungkinkan terjadinya pembelahan sifat tuhan.

Dan ini tidak akan pernah terjadi : jawabannya bisa digambarkan dengan ilustrasi tentang matahari. Apabila matahari berkata, “ aku telah memberikan sinar pada bumi”,maka hal itu benar. Ruh atau jiwa itu ada dibawah perintah tuhanmu. (Ar-ruhu min amr-i-rabbi). Oleh sebab itu, jiwa yang ada dibawah kata perintah,dan akal muncul sesudah melewati tiga tahap (Ahdiyah,Wahdat, dan Wahidiyyat) dan didalam pembatasan. Jiwa atau ruh ini adalah Ruh-I-A`dzam ( Haqiqati Muhammad ) yang merupakan tahap wahdah itu sendiri;dan tidak dibawah pembatasan. Walau jiwa itu pribadi adalah sebuah pembatasan, namun ia bebas dari materi dan eksistensi, serta dari warna dan bentuk. Ia merupakan pengenal bagi diri dan bukan – diri, tetapi tidak dapat di-indra oleh pancaindra yang ada.

Pembatas bagi ruh-I-A`dzam adalah jiwa – jiwa manusia, dan apabila pembatas semacam itu muncul didalam jasad, jadilah ia ruh binatang atau ruh makhluk. Sifatnya sangat halus dan setiap bagian terkecil darinya bertautan dengan partikal jasad. Jiwa inilah yang menerima ganjaran dan siksaan,dan ia pula yang merasakan kenikmatan jasmani.

Menurut al-kindi, jiwa merupakan substansi yang berasal dari tuhan. Tidak tersusun, mempunyai arti penting, sempurna dan mulia. Substansi yang sangat halus, bertabiat mulia dan substansinya adalah sebagian dari substansi Allah. Cahaya dari cahayanya, seperti cahaya dari matahari, juga bersifat independen dari jasmani. Jiwa selalu menentang kekuatan syahwat dan kemarahan, serta selalu mengatur kedua kekuatan tersebut dalam batas – batasnya dan tidak dibenarkan melampaui kekuatan jiwa itu sendiri. Selain itu jiwa bersifat spritual, ilahiah, terpisah dan berbeda dengan jisim.

Menurut saya, dalam artikel tersebut, Al Kindi dengan cukup jelas menggambarkan pandangannya tentang hakikat kehidupan versi Alquran dengan logika pemikirannya. Bahwa manusia terbagi dua hal yaitu jiwa (ruh) dan jasad. Perpaduan kedua bahan material inilah yang oleh kita manusia awam ditafsirkan sebagai ”kehidupan manusia”.

Fakta bahwa secara biologis tubuh manusia terbentuk dari hasil ”pertemuan” sel sperma dan ovarium, lalu membentuk zygot, berkembang menjadi janin dan lahir menjadi seorang bayi, adalah proses biologis pertumbuhan jasad manusia. Sedangkan pertumbuhan sang bayi menjadi dewasa, lalu meninggal dunia adalah proses dari ”hidup manusia” itu sendiri. Dimana secara agama, tingkah laku atau perbuatan manusia pada ”proses hidup” inilah yang akan dihisab oleh Allah SWT.

Al Kindi tidak secara sains menafsirkan proses penciptaan manusia, tapi mencoba menganalogikan bahwa dalam proses kehidupan manusia ada ”tujuan” yang harus dicapai, ada ”akal” yang harus dipergunakan dan ada ”jiwa” yang abadi. Akal dan jiwa itulah yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Akal dipergunakan untuk berpikir sebelum bertindak dan jiwa yang bersifat kekal, akan menanggung segala akibat dari pemikiran akal.

Adanya visi misi dan tujuan hidup manusia lah, yang menjadikan teori penciptaan manusia versi Alquran terasa lebih berisi dan terarah. Karena manusia hidup tidak mungkin tanpa adanya sebuah tujuan, demikian juga pemberian akal bagi manusia pun pasti dimaksudkan untuk memberi manfaat terhadap sesama manusia dan seluruh makhluk hidup di alam semesta ini.


Bagaimana Hidup?

Allah SWT berfirman:

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari
kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
(QS. Al-Imran:185)

Dalam salah satu syairnya yang bercerita tentang kehidupan, sastrawan Taufik Ismail pernah menulis:

Hidup itu bagaikan garis lurus tak pernah kembali ke masa yang lalu

Hidup bukan bulatan bola yang tiada ujung tiada pangkal

Hidup melangkah terus semakin mendekat ke titik terakhir

Setiap langkah hilangkan jarak menikmati hidup, nikmati dunia

Pesan nabi jangan takut mati karena mati pasti terjadi

Setiap insan pasti mati hanya soal waktu kapan terjadinya

Pesan nabi tentang mati, janganlah minta mati datang kepadamu

Janganlah engkau berbuat menyebabkan mati

Pesan nabi jangan takut mati, meski kau sembunyi dia menghampiri

Takutlah akan kehidupan sesudah kau mati, renungkanlah itu

Syair ” Hidup itu bagaikan garis lurus tak pernah kembali ke masa yang lalu” menggambarkan bahwa secara ilmu fisika, waktu tidak mungkin kembali ke awal, tetapi bergerak terus ke depan. Demikian juga hidup manusia, tidak mungkin kembali ke masa lalu dan menghapus atau mengubah perbuatan yang telah dilakukannya. Tidak ada manusia yang bisa kembali ke bayi menjelang kematiannya di hari tua.

Karena tidak bisa diulang, maka manusia harus menggunakan hidupnya sebaik mungkin, agar tidak menyesal di kemudian hari. Karena penilaian Tuhan terhadap tindakan manusia bersifat absolute.

Setiap manusia memiliki ”kenikmatan duniawi” yang berbeda satu dengan yang lain, ada yang menjadi presiden dan ada yang menjadi rakyat, ada yang menjadi konglomerat dan ada juga yang fakir miskin. Ada manusia baik dan ada juga manusia jahat. Kehidupan manusia tersebut secara garis besar merupakan kehendak Allah SWT, namun secara individu apa yang disebut takdir tersebut, ternyata masih masih bisa dirubah oleh individu tersebut tergantung usahanya.

Kolaborasi antara takdir Tuhan dan usaha manusia inilah yang menjadi landasan utama ”perhitungan Tuhan” terhadap kualitas hidup manusia setelah kematiannya. Semakin bermanfaat hidup manusia bagi sesamanya, akan semakin banyak pahala yang diberikan Allah. Semakin banyak mudharat nya, maka kualitas hidup manusia itu sendiri menjadi semakin rendah.

Bagaimana hidup manusia itu, sangat ditentukan oleh individu tersebut. Ada individu yang meraih kekayaan dengan cara bekerja keras, menuntut ilmu, dan mengoptimalkan segala kemampuannya. Namun ada juga yang mengambil jalan pintas dengan cara korupsi, mencuri atau menipu orang lain. Secara materi, hasil yang akan diperoleh mungkin akan sama, tapi cara yang ditempuh sangat berbeda. Pada proses dan cara pencapaian inilah, penilaian terhadap baik buruk hidup manusia terjadi.


Tujuan Hidup?

” Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu..” (QS: Adz-Dzaariyaat: 56).

Secara islam, pengertian Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah SWT, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang nampak (lahir) maupun yang tersembunyi (batin). Sebagian ulama menambahkan dengan: disertai oleh ketundukan yang paling tinggi dan rasa kecintaan yang paling tinggi kepada Allah SWT.

Ibadah itu banyak macamnya dan terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut kepada Alloh subhaanahu wa ta’ala), raja’ (mengaharap rahmat Alloh subhaanahu wa ta’ala), mahabbah (cinta kepada Alloh subhaanahu wa ta’ala), tawakkal adalah ibadah yang berkaitan dengan hati. Sedangkan membaca Al-Qur’an, tasbih, tahlil, takbir, tahmid adalah ibadah lisan dan hati. Sedangkan shalat, zakat, haji, berbakti pada orang tua, membantu orang kesulitan adalah ibadah badan dan hati.

Ibadah menurut bahasa artinya adalah taat (patuh, tunduk). Secara umum adalah mentaati segala perintah dan menjauhi segala larangan-larangan Allah. Secara khusus adalah ketaatan kepada hukum syara’ yang mengatur hubungan antara manusia dengan tuhannya, seperti shalat, zakat, haji, do’a, dan sebagainya.

Melaksanakan ibadah dalam makna umum secara konkrit merupakan misi hidup manusia di dunia menurut Islam. Inilah hakikat hidup manusia di dunia, dan yang wajib menjadi landasan segala pemikirannya. Realiti ibadah terwujud ketika seorang muslim mengikat dirinya dengan hukum-hukum syara’ dalam hubungan dengan Tuhan, Manusia lainnya dan dirinya sendiri.

Apa itu Kematian?

Kematian, semua orang tahu tapi terlalu sedikit yang mau menyadari, banyak manusia yang berusaha lari dari kematian, membebaskan fikirannya dari bayang-bayang maut. Namun sia-sialah usaha mereka. Ibarat bejana, semua orang akan meminumnya, ibarat binatang buas tak pernah bosan mengejar mangsanya, dia berjalan dan tak pernah memperlambat langkahnya, dia pasti datang tak pernah ingkat akan janjinya." Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya.Itulah yang kamu selalu lari dari padanya. (QS. 50:19)

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati... (QS. 3:185)

Secara kedokteran, indikator yang menunjukkan kematian seseorang dan berhentinya kehidupan padanya, adalah matinya batang otak (brain stem). Batang otak adalah semacam tangkai pada otak yang berbentuk penyangga atau tonggak, yang terletak pada pertengahan bagian akhir dari otak sebe­lah bawah, yang berhubungan dengan jaringan syaraf di leher. Di dalamnya terdapat jaringan syaraf yang jalin menjalin. Batang otak merupakan sirkuit yang menghubungkan otak dengan seluruh anggota tubuh dan dunia luar, yang berfungsi membawa stimulus penginderaan kepada otak dan membagikan seluruh respons yang dikeluarkan oleh otak untuk melaksanakan pesan-pesan otak.

Manusia, melalui nalar dan pengalamannya tidak mampu mengetahui hakikat kematian, karena itu kematian dinilai sebagai salah satu gaib nisbi yang paling besar. Walaupun pada hakikatnya kematian merupakan sesuatu yang tidak diketahui, namun setiap menyaksikan bagaimana kematian merenggut nyawa yang hidup manusia semakin terdorong untuk mengetahui hakikatnya atau, paling tidak, ketika itu akan terlintas dalam benaknya, bahwa suatu ketika ia pun pasti mengalami nasib yang sama.

Sebenarnya akal dan perasaan manusia pada umumnya enggan menjadikan kehidupan atau eksistensi mereka terbatas pada puluhan tahun saja. Walaupun manusia menyadari bahwa mereka harus mati, namun pada umumnya menilai kematian buat manusia bukan berarti kepunahan. Keengganan manusia menilai kematian sebagai kepunahan tercermin antara lain melalui penciptaan berbagai cara untuk menunjukkan eksistensinya. Misalnya, dengan menyediakan kuburan, atau tempat-tempat tersebut dikunjunginya dari saat ke saat sebagai manifestasi dari keyakinannya bahwa yang telah meninggalkan dunia itu tetap masih hidup walaupun jasad mereka telah tiada.

Dalam artikel Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat, M. Quraish Shihab, M.A menuliskan; Socrates pernah berkata, sebagaimana dikutip oleh Asy-Syahrastani dalam bukunya Al-Milal wa An-Nihal (I:297),

"Ketika aku menemukan kehidupan (duniawi) kutemukan bahwa akhir kehidupan adalah kematian, namun ketika aku menemukan kematian, aku pun menemukan kehidupan abadi. Karena itu, kita harus prihatin dengan kehidupan (duniawi) dan bergembira dengan kematian. Kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup." Secara lahiriah, kematian memang akan memisahkan manusia dengan kehidupan duniawinya. Tetapi hasil karya, pemikiran manusia, atau ilmu yang bermanfaat merupakan peninggalan duniawi yang akan terus dikenang oleh generasi selanjutnya, pasca kematiannya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad :“Apabila seorang anak Adam meninggal, maka akan terputus amalannya kecuali tiga perkara : shadaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kepadanya” (HR Abu Hurairah)

Puluhan atau bahkan ratusan tahun pasca kematiannya, umat manusia akan selalu mengingat karya-karya para pemikir dunia. Siapa tak kenal tokoh pemikir islam, Al Kindi, Al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun dll. Atau ahli filsafat, Plato, Socrates, Aristoteles hingga filsuf ”si pembunuh Tuhan” Friedrich Nietzsche . Atau si genius Albert Einstein dengan teori relativitasnya, Issac Newton dengan teori gravitasinya, atau si kontroversi penemu teori evolusi, Charles Darwin.

Salah satu cara manusia agar tetap bisa abadi pasca kematiannya, adalah menghasilkan karya-karya brilian. Dengan berkarya manusia akan dihargai oleh sesamanya (hablun min annaas), yang juga secara otomatis juga akan dihargai oleh Tuhan (hablun min allah). Relevansi dari bermanfaat bagi sesama manusia adalah kenikmatan surgawi yang dijanjikan oleh semua agama samawi.


Daftar Pustaka:

1. Artikel : Pandangan al-kindi tentang filsafat agama dan al-nafs, oleh Aldicool. http://one.indoskripsi.com

2. Artikel : Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat, oleh M. Quraish Shihab, M.A

Berbagai Artikel di Internet