Showing posts with label Teori Komunikasi. Show all posts
Showing posts with label Teori Komunikasi. Show all posts

Komunikasi Kelompok

Sumber : http://adiprakosa.blogspot.com
PENGERTIAN KOMUNIKASI KELOMPOK
Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Kedua definisi komunikasi kelompok di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu umtuk mencapai tujuan kelompok.

Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut (Deddy Mulyana, 2005). Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi, kelompok pemecahan masalah, atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan. Dalam komunikasi kelompok, juga melibatkan komunikasi antarpribadi. Karena itu kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok.
Klasifikasi kelompok dan karakteristik komunikasinya.

Telah banyak klasifikasi kelompok yang dilahirkan oleh para ilmuwan sosiologi, namun dalam kesempatan ini kita sampaikan hanya tiga klasifikasi kelompok.
• Kelompok primer dan sekunder.
Charles Horton Cooley pada tahun 1909 (dalam Jalaludin Rakhmat, 1994) mengatakan bahwa kelompok primer adalah suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerja sama. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita.

Jalaludin Rakhmat membedakan kelompok ini berdasarkan karakteristik komunikasinya, sebagai berikut:
1. Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam, artinya menembus kepribadian kita yang paling tersembunyi, menyingkap unsur-unsur backstage (perilaku yang kita tampakkan dalam suasana privat saja). Meluas, artinya sedikit sekali kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok sekunder komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.
2. Komunikasi pada kelompok primer bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
3. Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok primer adalah sebaliknya.
4. Komunikasi kelompok primer cenderung ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental.
5. Komunikasi kelompok primer cenderung informal, sedangkan kelompok sekunder formal.

• Kelompok keanggotaan dan kelompok rujukan.
Theodore Newcomb (1930) melahirkan istilah kelompok keanggotaan (membership group) dan kelompok rujukan (reference group). Kelompok keanggotaan adalah kelompok yang anggota-anggotanya secara administratif dan fisik menjadi anggota kelompok itu. Sedangkan kelompok rujukan adalah kelompok yang digunakan sebagai alat ukur (standard) untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap.

Menurut teori, kelompok rujukan mempunyai tiga fungsi: fungsi komparatif, fungsi normatif, dan fungsi perspektif. Saya menjadikan Islam sebagai kelompok rujukan saya, untuk mengukur dan menilai keadaan dan status saya sekarang (fungsi komparatif. Islam juga memberikan kepada saya norma-norma dan sejumlah sikap yang harus saya miliki-kerangka rujukan untuk membimbing perilaku saya, sekaligus menunjukkan apa yang harus saya capai (fungsi normatif). Selain itu, Islam juga memberikan kepada saya cara memandang dunia ini-cara mendefinisikan situasi, mengorganisasikan pengalaman, dan memberikan makna pada berbagai objek, peristiwa, dan orang yang saya temui (fungsi perspektif). Namun Islam bukan satu-satunya kelompok rujukan saya. Dalam bidang ilmu, Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) adalah kelompok rujukan saya, di samping menjadi kelompok keanggotaan saya. Apapun kelompok rujukan itu, perilaku saya sangat dipengaruhi, termasuk perilaku saya dalam berkomunikasi.

• Kelompok deskriptif dan kelompok preskriptif
John F. Cragan dan David W. Wright (1980) membagi kelompok menjadi dua: deskriptif dan peskriptif. Kategori deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara alamiah. Berdasarkan tujuan, ukuran, dan pola komunikasi, kelompok deskriptif dibedakan menjadi tiga: a. kelompok tugas; b. kelompok pertemuan; dan c. kelompok penyadar. Kelompok tugas bertujuan memecahkan masalah, misalnya transplantasi jantung, atau merancang kampanye politik. Kelompok pertemuan adalah kelompok orang yang menjadikan diri mereka sebagai acara pokok.

Melalui diskusi, setiap anggota berusaha belajar lebih banyak tentang dirinya. Kelompok terapi di rumah sakit jiwa adalah contoh kelompok pertemuan. Kelompok penyadar mempunyai tugas utama menciptakan identitas sosial politik yang baru. Kelompok revolusioner radikal; (di AS) pada tahun 1960-an menggunakan proses ini dengan cukup banyak.

Kelompok preskriptif, mengacu pada langkah-langkah yang harus ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan kelompok. Cragan dan Wright mengkategorikan enam format kelompok preskriptif, yaitu: diskusi meja bundar, simposium, diskusi panel, forum, kolokium, dan prosedur parlementer.

Pengaruh kelompok pada perilaku komunikasi
• Konformitas.
Konformitas adalah perubahan perilaku atau kepercayaan menuju (norma) kelompok sebagai akibat tekanan kelompok-yang real atau dibayangkan. Bila sejumlah orang dalam kelompok mengatakan atau melakukan sesuatu, ada kecenderungan para anggota untuk mengatakan dan melakukan hal yang sama. Jadi, kalau anda merencanakan untuk menjadi ketua kelompok,aturlah rekan-rekan anda untuk menyebar dalam kelompok. Ketika anda meminta persetujuan anggota, usahakan rekan-rekan anda secara persetujuan mereka. Tumbuhkan seakan-akan seluruh anggota kelompok sudah setuju. Besar kemungkinan anggota-anggota berikutnya untuk setuju juga.

• Fasilitasi sosial.
Fasilitasi (dari kata Prancis facile, artinya mudah) menunjukkan kelancaran atau peningkatan kualitas kerja karena ditonton kelompok. Kelompok mempengaruhi pekerjaan sehingga menjadi lebih mudah. Robert Zajonz (1965) menjelaskan bahwa kehadiran orang lain-dianggap-menimbulkan efek pembangkit energi pada perilaku individu. Efek ini terjadi pada berbagai situasi sosial, bukan hanya didepan orang yang menggairahkan kita. Energi yang meningkat akan mempertingi kemungkinan dikeluarkannya respon yang dominan. Respon dominan adalah perilaku yang kita kuasai. Bila respon yang dominan itu adalah yang benar, terjadi peningkatan prestasi. Bila respon dominan itu adalah yang salah, terjadi penurunan prestasi. Untuk pekerjaan yang mudah, respon yang dominan adalah respon yang banar; karena itu, peneliti-peneliti melihat melihat kelompok mempertinggi kualitas kerja individu.

• Polarisasi.
Polarisasi adalah kecenderungan ke arah posisi yang ekstrem. Bila sebelum diskusi kelompok para anggota mempunyai sikap agak mendukung tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan lebih kuat lagi mendukung tindakan itu. Sebaliknya, bila sebelum diskusi para anggota kelompok agak menentang tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan menentang lebih keras.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan kelompok
Anggota-anggota kelompok bekerja sama untuk mencapai dua tujuan: a. melaksanakan tugas kelompok, dan b. memelihara moral anggota-anggotanya. Tujuan pertama diukur dari hasil kerja kelompok-disebut prestasi (performance) tujuan kedua diketahui dari tingkat kepuasan (satisfacation). Jadi, bila kelompok dimaksudkan untuk saling berbagi informasi (misalnya kelompok belajar), maka keefektifannya dapat dilihat dari beberapa banyak informasi yang diperoleh anggota kelompok dan sejauh mana anggota dapat memuaskan kebutuhannya dalam kegiatan kelompok.

Untuk itu faktor-faktor keefektifan kelompok dapat dilacak pada karakteristik kelompok, yaitu:
1. ukuran kelompok.
2. jaringan komunikasi.
3. kohesi kelompok.
4. kepemimpinan (Jalaluddin Rakhmat, 1994).

Daftar pustaka
Anwar Arifin, 1984, Strategi Komunikasi: Suatu Pengantar Ringkas, Bandung: Armico
Deddy Mulyana, 2005, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Jalaludin Rakhmat, 1994, Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Littlejohn, 1999, Theories of Human Communication, Belmont, California: Wadsworth Publishing Company.
Wiryanto, 2005, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.


Sumber : http://massofa.wordpress.com
SISTEM KOMUNIKASI KELOMPOK

Klasifikasi Kelompok dan Pengaruh Kelompok pada Perilaku Komunikasi
Kelompok dapat diklasifikasikan dalam empat dikotomi, yaitu: primer, sekunder, ingroup-outgroup rujukan-keanggotaan, dan deskriptif-prespektif. Kelompok mempengaruhi perilaku komunikasi dalam 3 hal, yaitu: konformitas, fasilitas sosial, dan polarisasi.

Penelitian menunjukkan bahwa kelompok berkembang melalui beberapa tahap. Tahap-tahap tersebut adalah: orientasi, konflik, kemunculan (emergence), dan penguatan (reinforcement). Adanya kelompok juga menyebabkan terbentuknya budaya kelompok. Budaya kelompok ini berfungsi untuk: (1) membentuk identitas kelompok, dan (2) memberikan rasa kebersamaan dalam kelompok.

Penelitian menunjukkan bahwa kelompok berkembang melalui beberapa tahap. Tahap-tahap tersebut adalah: orientasi, konflik, kemunculan (emergence), dan penguatan (reinforcement). Adanya kelompok juga menyebabkan terbentuknya budaya kelompok. Budaya kelompok ini berfungsi untuk: (1) membentuk identitas kelompok, dan (2) memberikan rasa kebersamaan dalam kelompok

Efektivitas, Pengambilan Keputusan dan Konflik dalam Kelompok
Efektivitas kelompok dipengaruhi oleh dua factor, yaitu: factor situasional (karateristik kelompok dan factor personal (karateristik para anggota kelompok).
Faktor situasional meliputi:
a. ukuran kelompok,
b. jaringan komunikasi,
c. kohesi kelompok,
d. dan kepemimpinan.

Sedangkan factor personal meliputi:
a. kebutuhan interpersonal,
b. tindak komunikasi,
c. peranan.


Aktivitas penting lainnya di dalam kelompok adalah pengambilan keputusan. Pengambilan dapat dilakukan dengan cara: consensus, kompromi, pengambilan suara mayoritas, keputusan oleh pemimpin, dan orbitrasi.
Konflik dalam kelompok tidak dapat dihindari. Ada dua dimensi penting dalam konflik, yaitu: ketegasan dan kerja sama. Jika dikombinasikan maka kedua dimensi tersebut menghasilkan lima gaya sikap.

Sumber : http://kuliah.dagdigdug.com
PRINSIP DASAR KOMUNIKASI DALAM KELOMPOK

Sebagaimana telah diuraikan pada bagian pendahuluan, bahwa kelompok merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas kita sehari-hari. Kelompok baik yang bersifat primer maupun sekunder, merupakan wahana bagi setiap orang untuk dapat mewujudkan harapan dan keinginannya berbagi informasi dalam hamper semua aspek kehidupan. Ia bias merupakan media untuk mengungkapkan persoalan-persoalan pribadi (keluarga sebagai kelompok primer), ia dapat merupakan sarana meningkatkan pengethuan para anggotanya (kelompok belajar) dan ia bias pula merupakan alat untuk memecahkan persoalan bersama yang dihadapi seluruh anggota (kelompok pemecahan manaslah). Jadi, banyak manfaat yang dapat kita petik bila kita ikut terlibat dalam seuatu kelompok yang sesuai dengan rasa ketertarikan (interest) kita. Orang yang memisahkan atau mengisolasi dirinya dengan orang lain adalah orang yang penyendiri, orang yang benci kepada orang lain (misanthrope) atau dapat dikatakan sebagai orang yang antisocial.

Bahasan dalam modul ini mencakup tiga hal, yaitu pengertian mngenai kemonikasi kelompok, karakteristik dari komunikasi kelompok dan kajian tentang fungsi dari komunikasi kelompok.

Pengertian Komunikasi Kelompok
Michael Burgoon dan Michael Ruffner dalam bukunya Human Communiation, A Revisian of Approaching Speech/Comumunication, memberi batasan komunikasi kelompok sebagai interaksi tatap muka dari tiga atau lebih individu guna memperoleh maksud atau tujuan yang dikehendaki seperti berbagai informasi, pemeliharaan diri atau pemecahan masalah sehingga semua anggota kelompok dapat menumbuhkan karateristik pribadi anggota lainnya dengan akurat (the face-to-face interaction of three or more individuals, for a recognized purpose such as information sharing, self-maintenance, or problem solving, such that the members are able to recall personal characteristics of other members accurately).

Ada empat elemen yang tercakup dalam definisi di atas, yaitu :
1. interaksi tatap muka, jumlah partisipan yang terlibat dalam interaksi, maksud atau tujuan yang dikehendaki dan kemampuan anggota untuk dapat menumbuhkan karakteristik pribadi anggota lainnya. Kita mencoba membahaas keempat elemen dari batasan tersebut dengan lebih rinci.

2. Terminologi tatap muka (face-toface) mengandung makna bahwa setiap anggota kelompok harus dapat melihat dan mendengar anggota lainnya dan juga harus dapat mengatur umpan balik secara verbal maupun nonverbal dari setiap anggotanya. Batasan ini tidak berlaku atau meniadakan kumpulan individu yang sedang melihat proses pembangunan gedung/bangunan baru. Dengan demikian, makna tatap muka tersebut berkait erat dengan adanya interaksi di antara semua anggota kelompok. Jumlah partisipan dalam komunikasi kelompok berkisar antara 3 sampai 20 orang. Pertimbangannya, jika jumlah partisipan melebihi 20 orang, kurang memungkinkan berlangsungnya suatu interaksi di mana setiap anggota kelompok mampu melihat dan mendengar anggota lainnya. Dan karenannya kurang tepat untuk dikatakan sebagai komunikasi kelompok.

3. Maksud atau tujuan yang dikehendaki sebagai elemen ketiga dari definisi di atas, bermakna bahwa maksud atau tujuan tersebut akan memberikan beberapa tipe identitas kelompok. Kalau tujuan kelompok tersebut adalah berbagi informasi, maka komunikasi yang dilakukan dimaksudkan untuk menanamkan pengetahun (to impart knowledge). Sementara kelompok yang memiliki tujuan pemeliharaan diri (self-maintenance), biasanya memusatkan perhatiannya pada anggota kelompok atau struktur dari kelompok itu sendiri. Tindak komunikasi yang dihasilkan adalah kepuasan kebutuhan pribadi, kepuasan kebutuhan kolektif/kelompok bahkan kelangsungan hidup dari kelompok itu sendiri. Dan apabila tujuan kelompok adalah upaya pemecahan masalah, maka kelompok tersebut biasanya melibatkan beberapa tipe pembuatan keputusan untuk mengurangi kesulitan-kesulitan yang dihadapi.

4. Elemen terakhir adalah kemampuan anggota kelompok untuk menumbuhkan karateristik personal anggota lainnya secara akurat. Ini mengandung arti bahwa setiap anggota kelompok secara tidak langsung berhubungan dengan satu sama lain dan maksud/tujuan kelompok telah terdefinisikan dengan jelas, di samping itu identifikasi setiap anggota dengan kelompoknya relatif stabil dan permanen.
Batasan lain mengenai komunikasi kelompok dikemukakan oleh Ronald Adler dan George Rodman dalam bukunya Understanding Human Communication. Mereka mengatakan bahwa kelompok atau group merupakan sekumpulan kecil orang yang saling berinteraksi, biasanya tatap muka dalam waktu yang lama guna mencapai tujuan tertentu (a small collection of people who interct with each other, usually face to face, over time order to reach goals).

Ada empat elemen yang muncul dari definisi yang dikemukakan oleh Adler dan Rodman tersebut, yaitu :
1. elemen pertama adalah interaksi dalam komunikasi kelompok merupakan faktor yang penting, karena melalui interaksi inilah, kita dapat melihat perbedaan antara kelompok dengan istilah yang disebut dengan coact. Coact adalah sekumpulan orang yang secara serentak terkait dalam aktivitas yang sama namun tanpa komunikasi satu sama lain. Misalnya, mahasiswa yang hanya secara pasif mendengarkan suatu perkuliahan, secara teknis belum dapat disebut sebagai kelompok. Mereka dapat dikatakan sebagai kelompok apabila sudah mulai mempertukarkan pesan dengan dosen atau rekan mahasiswa yang lain.

2. elemen yang kedua adalah waktu. Sekumpulan orang yang berinteraksi untuk jangka waktu yang singkat, tidak dapat digolongkan sebagai kelompok. Kelompok mempersyaratkan interaksi dalam jangka waktu yang panjang, karena dengan interaksi ini akan dimiliki karakteristik atau ciri yang tidak dipunyai oleh kumpulan yang bersifat sementara.

3. elemen yang ketiga adalah ukuran atau jumlah partisipan dalam komunikasi kelompk. Tidak ada ukuran yang pasti mengenai jumlah anggota dalam suatu kelompok. Ada yang memberi batas 3-8 orang, 3-15 orang dan 3-20 orang. Untuk mengatasi perbedaan jumlah anggota tersebut, muncul konsep yang dikenal dengan smallness, yaitu kemampuan setiap anggota kelompk untuk dapat mengenal dan memberi reaksi terhadap anggota kelompok lainnya. Dengan smallness ini, kuantitas tidak dipersoalkan sepanjang setiap anggota mampu mengenal dan memberi rekasi pada anggota lain atau setiap anggota mampu melihat dan mendengar anggota yang lain/seperti yang dikemukakan dalam definisi pertama.

4. elemen terakhir adalah tujuan yang mengandung pengertian bahwa keanggotaan dalam suatu kelompok akan membantu individu yang menjadi anggota kelompok tersebut dapat mewujudkan satu atau lebih tujuannya.

Karakteristik Komunikasi Kelompok
Apapun fungsi yang disandangnya, baik primer maupun sekunder dalam keberadaannya memiliki karakteristik tertentu. Karenanya, memahami karakteristik yang ada merupakan langkah pertama untuk bertindak lebih efektif dalam suatu kelompok di mana kita ikut terlibat didalamnya. Ada dua karakteristik yang melekat pada suatu kelompok, yaitu norma dan peran. Kita akan membahas kedua karakteristik tersbut denga lebih rinci satu persatu.

Norma adalah persetujuan atau perjanjian tentang bagaimana orang-orang dalam suatu kelompok berperilaku satu dengan lainnya. Kadang-kadang norma oelh para sosiolog disebut juga dengan ‘hukum’ (law) ataupun ‘aturan’ (rule), yaitu perilaku-perilaku apa saja yang pantas dan tidak pantas untuk dilakukan dalam suatu kelompok. Ada tiga kategori norma kelompok, yaitu norma sosial, prosedural dan tugas. Norma sosial mengatur hubungan di antara para nggota kelompok. Sedangkan norma prosedural menguraikan dengan lebih rinci bagaimana kelompok harus beroperasi, seperti bagaimana suatu kelompok harus membuat keputusan, apakah melalui suara mayoritas ataukah dilakukan pembicaraan sampai tercapai kesepakatan. Dari norma tugas mmusatkan perhatian pada bagaimana suatu pekerjaan harus dilaksanakan.

Berikut kita akan mempelajari norma-norma dalam kelompok dengan mencermati tabel di bawah ini.
TABEL NORMA-NORMA YANG DIHARAPKAN
DALAM SUATU KELOMPOK
SOSIAL PROSEDURAL TUGAS
Mendiskusikan persoalan Memperkenalkan para Mengkritik ide
Yang tidak kontroversial anggota kelompok bukan orangnya
Menceritakan gurauan Membuat agenda Mendukung gagasan
Yang lucu pertemuan yang terbaik
Menceritakan kebenaran Duduk saling bertatap Memiliki kepedulian
Yang tidak dapat dibantah muka untuk pemecahan
Persoalan
Jangan merokok (kalau Memantapkan tujuan Berbagi beban
Dimungkinkan) kelompok pekerjaan
Jangan datang terlambat Jangan meninggalkan Jangan memaksakan
Pertemuan tanpa sebab gagasan kita dalam
Kelompok
Tidak hadir tanpa alasan Jangan memonopoli Jangan berkata kasar
Yang jelas percakapan jika tidak setuju

Jika norma diberi batasan sebagai ukuran kelompok yang dapat diterima, maka peran (role) merupakan pola-pola perilaku yang diharapkan dari setiap anggota kelompok. Ada dua fungsi peran dalam suatu kelompok, yaitu fungsi tugas dan fungsi pemeliharaan. Kita akan menyimak kedua fungsi tersebut dalam tabel.

TABEL PERAN FUNGSIONAL DARI ANGGOTA KELOMPOK
FUNGSI TUGAS FUNGSI PEMELIHARAAN
Pemberi informasi Pendorong partisipasi
Pemberi pendapat Penyelaras
Pencari informasi Penurun ketegangan
Pemberi aturan Penengah persoalan pribadi

Fungsi Komunikasi Kelompok
Keberadaan suatu kelompok dalam masyarakat dicerminkan oleh adanya fungsi-fungsi yang akan dilaksanakannya. Fungsi-fungsi tersebut mencakup fungsi hubungan sosial, pendidikan, persuasi, pemecahan masalah dan pembuatan keputusan dan fungsi terapi. Semua fungsi ini dimanfaatkan untuk pembuatan kepentingan masyarakat, kelompok dan para anggota kelompok itu sendiri.

Fungsi pertama dalam kelompok adalah hubungan sosial, dalam arti bagaimana suatu kelompok mampu memelihara dan memantapkan hubungan sosial di antara para anggotanya seperti bagaimana suatu kelompok secara rutin memberikan kesempatan kepada anggotanya untuk melakukan sktivitas yang informal, santai dan menghibur.
Pendidikan adalah fungsi kedua dari kelompok, dalam arti bagaimana sebuah kelompok secara formal maupun informal bekerja unutk mencapai dan mempertukarkan pengetahun.

Melalui fungsi pendidikan ini, kebutuhan-kebutuhan dari para anggota kelompok, kelompok itu sendiri bahkan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. Namun demikian, fungsi pendidikan dalam kelompok akan sesuai dengan yang diharapkan atau tidak, bergantung pada tiga faktor, yaitu jumlah informasi baru yang dikontribusikan, jumlah partisipan dalam kelompok serta frekuensi interaksi di antara para anggota kelompok. Fungsi pendidikan ini akan sangat efektif jika setiap anggota kelompk membawa pengetahuan yang berguna bagi kelompoknya. Tanpa pengetahuan baru yang disumbangkan msing-masing anggota, mustahil fungai edukasi ini akan tercapai.

Dalam fungsi persuasi, seorang anggota kelompok berupaya mempersuasikan anggota lainnya supaya melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Seseorang yang terlibat usaha-usaha persuasif dalam suatu kelompok, membawa resiko untuk tidak diterima oleh para anggota lainnya. Misalnya, jika usaha-usaha persuasif tersebut terlalu bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok, maka justru orang yang berusaha mempersuasi tersebut akan menciptakan suatu konflik, dengan demikian malah membahayakan kedudukannya dalam kelompok.

Fungsi keompok juga dicerminkan dengan kegiatan-kegiatannya untuk memecahkan persoalan dan membuat keputusan-keputusan. Pemecahan masalah (problem solving) berkaitan dengan penemuan alternatif atau solusi yang tidak diketahui sebelumnya; sedangkan pembuatan keputusan (decision making) berhubungan dengan pemilihan antara dua atau lebih solusi. Jadi, pemecahn masalah menghasilkan materi atu bahan untuk pembuatan keputusan.

Terapi adalah fungsi kelima dari kelompok. Kelompok terapi memiliki perbedaan dengan kelompok lainnya, karena kelompok terapi tidak memiliki tujuan. Objek dari kelompok terapi adalah membantu setiap individu mencapai perubahan personalnhya. Tentunya, individu tersebut harus berinteraksi dengan anggota kelompok lainnya guna mendapatkan manfaat, namun usaha utamanya adalh membantu dirinya sendiri, bukan membantu kelompok mencapai konsensus. Contoh dari kelompok terapi ini adalah kelompok konsultasi perkawinan, kelompok penderita narkotika, kelompok perokok berat dan sebagainya. Tindak komunikasi dalam kelompok-kelompok terapi dikenal dengan nama pengungkapan ciri (self disclosure). Artinya, dalam suasana yang mendukung, setiap anggota dianjurkan untuk berbicara secara terbuka tentang apa yang menjadi permasalahannya. Jika muncul konflik antar anggota dalam diskusi yang dilakukan, orang yang menjadi pemimpin atau yang memberi terapi yang akan mengaturnya.

MEMAHAMI KOMUNIKASI DALAM KELOMPOK
Persoalan-persoalan mengenai tipe kelompok, metode pembuatan keputusan yang terjadi dalam suatu kelompok dan kepemimpinan dalam kelompok merupakan materi pelajaran yang akan dibahas dalam kegiatan belajar 2 berikut ini.

Dalam wujud nyata yang dapat dita temui sehari-hari, kita nengenal beberapa tipe dari kelompok seperti kelompok belajar, kelompok pemecahan masalah, serta kelompok sosial lainnya. Sementara dalam bahasan mengenai metode pengambilam keputusan dalam kelompok, kita akan mengenal sejumlah metode yang digunakan di mana masing-masing metode yang dipakai bergantung kepada beberapa faktor yang melingkupinya. Dan dalam bahasan mengenai kepemimpinan dalam kelompok, kita diajak untuk memikirkan gaya-gaya kepemimpinan yang terjadi dalam kelompok dan fungsi kepemimpinan dalam kelompok.

Kita mencoba membahas ketiga subbahasan dalam kegiatan belajar 2 ini dengan lebih rinci dan mendalam.
Tipe Kelompok
Ronald B. Adler dan Goerge Rodman dalam bukunya Understanding Human Communication membagi kelompok dalam tiga tipe, yaitu kelompok belajar (learning group), kelompok pertumbuhan (growth group), dan kelompok pemecahan masalah (problem-solving group). Masing-masing tipe kelompok memiliki karakteristik dan tujuan yang berbeda.

Kelompok Belajar (learning group)
Ketika kita mendengar kata ‘belajar’ atau learning, perhatian dan pikiran kita hampir selalu tertuju pada suatu lembaga pendidikan ataupun sekolah. Meskipun institusi pendidikan tersebut termasuk dalam klasifikasi learning group, namun ia bukan satu-satunya. Kelompok yang memberi keterampilan berenang ataupun kelompok yang mengkhususkan kegiatannya pada peningkatan kemampuan dalam memberi pertolongan darurat misalnya, dapat digolongkan ke dalam kelompok belajar tersebut. Jadi, apa pun bentuknya, tujuan dari learning group ini adalah meningkatkan pengetahuan atau kemampuan para anggotanya.
Satu ciri yang menonjol dari learning group ini adalah adanya pertukaran informasi dua arah, artinya setiap anggota dalam kelompok belajar adalah kontributor atau penyumbang dan penerima pengetahuan.

Kelompok Petumbuhan (growth group)
Jika learning group para anggotanya terlibat dalam persoalan-persoalan aksternal sebagaimana yang telah siuraikan di atas, maka kelompok pertumbuhan lebih memusatkan perhatiannya kepada permasalah pribadi yang dihadapi para anggotanya. Wujud nyata dari growth group ini adalah kelompok bimbingan perkawinan, kelompok bimbingan psikologi, kelompok terapi sebagaimana yang sudah diuraikan pada kegiatan belajar 1, serta kelompok yang memusatkan aktivitasnya kepada penumbuhan keyakinan diri, yang biasa disebut dengan consciousness-raising group.
Karekateristik yang terlihat dalam tipe kelompok ini adalah growth group tidak mempunyai tujuan kolektif yang nyata, dalam arti bahwa seluruh tujuan kelompok diarahkan kepada usaha untuk membentu para anggotanya mengidentifikasi dan mengarahkan mereka untuk peduli dengan persoalan pribadi yang mereka hadapi.

Kelompok Pemecahan Masalah (problem-solving group)
Orang -orang yang terlibat dalam kelompok pemecahan masalah, bekerja bersama-sama untuk mengatasi persoalan bersama yang mereka hadapi. Dalam sebuah keluarga misalnya, bagaimana seluruh anggota keluarga memecahkan persoalan tentang cara pembagian kerja yang memungkinkan mereka terlibat dalam pekerjaan rumah tangga, seperti tugas apa yang harus dilakukan seorang suami, apa yang menjadi tanggung jawab istri, dan pekerjaan-pekerjaan apa yang dibebankan kepada anak-anaknya. Atau dalam contoh lain, bagaimana cara warga yang bergabung dalam satu rukun tetangga (RT) berusaha mengorganisasikan diri mereka sendiri guna mencegah tindakan pencurian melalui kegiatan sistem keamanan llingkungan atau lebih dikenal dengan siskamling.

Problem solving gorup dalam opersionalsasinya, mlibatkan dua aktivitas penting.
1. Pengumpulan informasi (gathering information); bagaimana suatu kelompok sebelum membuat suatu keputusan, berusaha mengumpulkan informasi yang penting dan berguna untuk landasan pengambilan keputusan tersebut.
2. Pembuatan keputusan atau kebijakan itu sendiri yang berdasar pada hasil pengumpulan informasi.

Referensi:
1. Sasa Djuarsa S., Teori Komunikasi, Universitas Terbuka, Jakarta. 2003
2. John Fiske, Introduction to Communication Studies, Sage Publications, 1996
3. Stephen W. Littlejohn, Theories of Human Communiation, Wadsworth
Publication, New Jersey, 1996.
4. Drs. Ahmad Mulyana, M.Si


Sumber: http://apadefinisinya.blogspot.com
Komunikasi Kelompok Kecil (Small Group Communication)

A. Bentuk Komunikasi
- Komunikasi Personal [Personal Communication]
- Komunikasi intrapersonal [intrapersonal communication]
- Komunikasi antarpersonal [interpersonal communication]
- Komunikasi Kelompok [Group Communication]
- Komunikasi kelompok kecil [small group communication] Ceramah [lecture], diskusi panel [panel discussion], simposium [symposium], forum, seminar, curah saran [brain storming], komunikasi antara manager dengan sekelompok karyawan,
- Komunikasi kelompok besar [large group communication] Public speaking, Rhetorika
- Komunikasi Massa [Mass Communications]
Pers cetak [koran, majalah, tabloid]
Pers elektronik [radio, tv, film]
Pers digital [internet : www.detik.com, www.koridor.com, www.berpolitik.com]
- Komunikasi media [Medioa communication]
Surat, telepon, e-mail, pamflet, poster, brosur, spanduk, dll.

B. Sifat komunikasi
- Tatap muka [face to face]
- Bermedia [mediated]
- Verbal [verbal]
- Lisan [oral]
- Tulisan/ cetak [written/ printed]
- Nonverbal [non-verbal]
- kial/ isyarat badaniah [gestural]
- bergambar [pictorial] , facial expressions, spatial relationship

Sementara itu, kelompok kecil adalah sekumpulan perorangan yang relatif kecil yang masing-masing dihubungkan oleh beberapa tujuan yang sama dan mempunyai derajat organisasi tertentu di antara mereka. Karakteristik kelompok kecil adalah sebagai berikut :

Pertama, kelompok kecil adalah sekumpulan perorangan, jumahnya cukup kecil sehingga semua anggota bisa berkomunikasi dengan mudah sebagai pengirim maupun penerima. Yang penting untuk diingat adalah bahwa setiap anggota harus berfungsi sebagai sumber maupun penerima dengan relatif mudah.

Kedua, para anggota kelompok harus dihubungkan satu sama lain dengan beberapa cara. Orang-orang di dalam gedung bioskop bukan merupakan kelompok, karena di antara mereka tidak ada hubungan satu sama lain.

Ketiga, di antara anggota kelompok harus ada beberapa tujuan yang sama. Hal ini tidak berarti bahwa semua anggota harus mempunyai tujuan yang persis sama untuk menjadi anggota kelompok.

Keempat, para anggota kelompok harus dihubungkan oleh beberapa aturan dan struktur yang terorganisasi. Pada strukturnya ketat maka kelompok akan berfungsi menurut prosedur tertentu di mana setiap komentar harus mengikuti aturan yang tertulis.
Seiring dengan perkembangan usia dan intelektual kita maka kehidupan sosial kita semakin kompleks, kita mulai masuk menjadi anggota kelompok sekunder; sekolah, lembaga keagamaan, tempat pekerjaan dan kelompok-kelompok sekunder yang sesuai dengan minat dan keterikatan kita. Komunikasi kelompok digunakan untuk saling bertukar informasi, menambah pengetahuan, memperteguh atau mengubah sikap dan perilaku.

Kelompok menjadi kerangka rujukan (frame of reference) kita dalam berkomunikasi. Agar dapat disebut kelompok ketika anggota-anggotanya memiliki kesadaran akan ikatan yang sama yang mempersatukan mereka. Jadi ada sense of belonging yang tidak dimiliki orang yang bukan anggota. Nasib anggota-anggota kelompok juga saling bergantung satu sama lain. Identifikasikan kelompok dimana sekarang anda menjadi anggotanya, dan analisis bagaimana kelompok tersebut mempengaruhi perilaku komunikasi anda ).

Bagaimana komunikasi dalam kelompok mempengaruhi cara pengambilan keputusan. Ada dua aliran besar didalam melihat teori komunikasi kelompok (Liitlejohn, 1999:284-294):
1. The input – process – output model
Input = sesuatu yang mempengaruhi kelompok
Proses = sesuatu yang terjadi dalam kelompok
Output = sesuatu yang dihasilkan kelompok

2. The structurational perspective
Ada tiga teori komunikasi kelompok yang diperkenalkan dalam aliran input-process output model :
a. A general organizing model
Menekankan pada bagaimana kelompok memiliki energi yang digunakan untuk aktivitas pengambilan keputusan
b. The functional tradition
Menekankan pada kualitas komunikasi kelompok, membahas kesalahankesalahan yang dibuat oleh kelompok pada waktu pengambilan keputusan.
c. The interactioanl tradition
Menekankan pada aspek komunikasi yang terjadi di dalam kelompok. Bahwa output kelompok sangat ditentukan oleh interaksi yang terjadi di dalam kelompok. Kelompok kecil melaksanakan kegiatannya dengan berbagai format. Format yang paling populer adalah panel discussion, seminar, simposium, dan simposium-forum.
Panel Discussion.

Dalam format panel atau meja bundar, anggota kelompok mengatur diri mereka sendiri dalam pola melingkar atau semi-melingkar. ereka berbagi informasi atau memecahkan permasalahan tanpa pengaturan siapa dan kapan mereka berbicara. Anggota akan memberikan kontribusinya jika mereka sendiri merasakan merasakan layak itu.


Ceramah (lecture)
Dalam seminar, anggota kelompok adalah “para pakar” dan berpartisipasi dalam format panel atau meja bundar. Perbedaannya adalah dalam seminar terdapat peserta yang anggotanya diminta untuk berkontribusi. Mereka ini bisa diminta untuk mengajukan pertanyaan atau memberikan beberapa umpan balik. Modifikasi lain dari seminar adalah format seminar dua-panel, yang terdiri dari panel pakar dan panel awam. Panel awam mendiskusikan topik, tetapi jika mereka memerlukan informasi teknis, tambahan data, atau pengarahan, mereka akan meminta bantuan kepada anggota panel pakar untuk memberikan informasi yang diperlukan.

Symposium
Dalam simposium, setiap anggota menyajikan presentasi yang telah disiapkan, seperti halnya pidato di depan umum. Semua pembicara menilik dari aspek yang berbeda mengenai suatu topik. Dalam simposium, pemimpin atau moderator akan memperkenalkan para pembicara, mengatur alur dari satu pembicara ke pembicara lain, dan bisa juga menyampaikan ringkasannya secara berkala.

Brain Storming.
Simposium-forum terdiri dari dua bagian: simposium, dengan pembicara yang sudah disiapkan, dan forum, yang mempersilakan para hadirin untuk mengajukan pertanyaan dan dijawab oleh pembicara selain itu juga forum yang berbentuk curah pendapat, tukar pikiran. Pimpinan akan memperkenalkan para pembicara dan menjadi moderator dalam acara tanya jawab.

Model Komunikasi Schramm


Schramm Dalam Riset Sejarah Komunikasi Massa dan Paradigma Jurnalisme

Penulis : Enik Sulistyawati

Sumber : enikkirei.multiply.com

A. BIOGRAFI
Wilbur Schramm mempunyai nama lengkap Wilbur Lang Schramm, seorang pakar komunikasi berparadigma positivistik dari Amerika Serikat. Beliau lahir di Marietta, yakni sebuah kota yang terletak di batas selatan Ohio, yang diberi nama oleh penjajah Perancis pada tanggal 5 Agustus 1907dan meninggal di Honolulu, Hawaii pada tanggal 27 Desember 1987. Leluhur Schramm berasal dari Schrammsburg, Jerman, dan nama Jerman yang didapat Schramm dikarenakan kesulitan keluarganya selama Perang Dunia I, sewaktu Schramm masih anak-anak. Ayahnya adalah seorang pengacara di Marietta, yang membuka praktek legal yang menyedihkan.
Meraih gelar A.B. dari Universitas Marietta (1928), A.M. dari Universitas Harvard (1930) dan Ph.D. dari Universitas Iowa (1932). Schramm mengajar Bahasa Inggris di Iowa (1935-1943), selain itu juga mendasari berdirinya American Prefaces sekaligus sebagai editornya. Menjadi pimpinan the Iowa Writer’s Workshop, bekerja di firm Harcourt Brace dan membantu di federal war information agencies. Beliau memimpin School of Journalism di Iowa (1943-1947). Kemudian menjadi pimpinan program kajian komunikasi massa di Universitas Illinois, Universitas Stanford dan the East-West Center, Universitas Hawaii. Beliau merupakan seorang penulis produktif dan editor di American literature dan Mass Communication.

1. Kegagapan Schramm
Kegagapan menjengkelkan yang diidap oleh Wilbur Schramm sejak ia berumur 5 tahun dikarenakan operasi amandel yang kurang baik. Pidatonya sangat memalukan bagi dirinya dan keluarganya. Sebagai pengidap kegagapan, ayah Schramm mengamati kemenarikan dari anaknya dimana ia bermimpi tentang karirnya dalam hukum dan politik. Kegagapan anak lelakinya sangat traumatik baginya. Ia menghindari berbicara di depan publik. Sebagai ganti dari pidato perpisahan SMA nya, Schramm memainkan The Londonderry Air dengan flutenya. Namun, saat ia lulus cumlaude dari Marietta College pada jurusan sejarah dan ilmu politik pada tahun 1928, ia memberikan pidato perpisahan. Secara berangsur-angsur Schramm belajar hidup dengan kegagapannya, dimana dengan secepat mungkin ia lebih sedikit melafalkan sesuatu. Meskipun demikian, pidato sulitnya memberikan efek di kehidupannya kemudian, yang secara cepat memimpinnya ke dalam bidang komunikasi di karir keduanya.
Saat ia masih kecil, Schramm menunjukkan semangat yang mana dapat mengkarakterisasikan karir sesuai keinginan, kreativitas, kemampuan intelektualnya dan menjadikan ia sebagai master dalam suatu bidang yang baru. Schramm mengajar di Universitas Iowa pada awal tahun 1930-an, ia tidak mengira bahwa sarjana muda yang gagap dapat menjadi seorang pengajar. Namun secepat mungkin, dengan terapi berbicara dan mungkin dengan tumbuhnya ras percaya diri terhadap kemampuan verbalnya, Schramm mengatasi masalah kegagapannya sedikit demi sedikit. Ia menjadikan mengajar adalah karir dalam bagian hidupnya. Dan dalam kehidupan selanjutnya, adakalanya cara bicara yang gagap adalah suatu masalah.
Schramm sulit berbicara namun mudah menulis, dan ia mendapat biaya kuliahnya dengan bekerja paruh waktu sebagai reporter olahraga pada koran Marietta Register dan bekerja di Boston Herald selama ia lulus dari Universitas Harvard, menyelesaikan gelar MA nya di American Civilization pada tahun 1930. Mengapa Schramm meninggalkan Harvard setelah mendapatkan gelar masternya? Uang kuliah di Harvard adalah 500 dollar per semester, dan Schramm mengalami kesulitan financial. Dalam waktu senggangnya di Harvard, ia bekerja enam paruh waktu secara serempak, setelah itu ia dihadiahi beasiswa kelulusan, dan itu sedikit banyak menenangkan financial atau keuangannya, namun ketika bursa saham anjlok hal tersebut menjadi penyebab depresi yang hebat. Alasan lain Schramm pindah ke Universitas Iowa untuk gelar doktornya berkaitan dengan kegagapan yang dialaminya. Salah satu ahli top tentang kegagapan di United States, Profesor Lee Edward Travis, menyelenggarakan penelitian dan pelatihan tentang kegagapan di Iowa. Teorinya tentang penanganan yang salah menjadi faktor kegagapan, sehingga ia mengikat tangan kanan Schramm di sebelahnya, itu tidak menolong.
Travis bekerja tentang kegagapan setelah dipindahkan ke Iowa oleh Wendell Johnson, dan saat itulah ia menjadi penolong Schramm dengan memberikan pengarahan dan terapi. Johnson mengalami kegagapan sejak ia berumur 5 tahun. Kegagapan sering didiagnosa dikarenakan orang tua yang perfeksionis dimana anak mungkin memiliki keraguan yang sungguh-sungguh dan karakteristik pengulangan dari berbicara normal yang dialami kebanyakan anak kecil. Dalam bagian ini, kegagapan adalah definisi penyakit sosial. Lebih lanjutnya, kebanyakan individu jarang gagap bila sedang sendiri tetapi bila hanya bicara face to face dengan orang lain, khususnya dalam situasi tertekan. Johnson memandang kegagapan sebagai sesuatu yang disebut masalah komunikasi. Tentu saja Johnson melewatkan sudut pandang ini terhadap Schramm. Masalah kegagapan Schramm merupakan salah satu alasan bagi Schramm untuk menyukai komunikasi sejak dini.

2. Pasca Sarjana dalam Percobaan Psikologi
Latihan Schramm terhadap kegagapannya membuatnya memunculkan bidang pembelajaran komunikasi dengan teliti dan detail dan memimpin Schramm kedalam percobaan penelitian tentang perilaku berbicara. Tetapi basic Schramm di Iowa adalah humanistic setelah mendapat gelar Ph. D pada literature Inggris pada tahun 1932. Desertasinya dianalisis oleh Henry Wadsworth longfellow’s tentang syair kepahlawanan Hiawatha. Setelah Schramm menerima beasiswa pasca sarjana dari American Council of Learned Societies dan ia tinggal di Iowa untuk dua tahun sekolah pasca sarjananya dengan Profesor Carl E. Seashore pada departemen psikologi. Schramm membentuk laboratorium percobaan tenatang masalah audiologi dan mempelajari percobaan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif.
Fakta bahwa Schramm menyelenggarakan penelitian pasca sarjana dalam bagian yang tidak pernah ia pelajari sebelumnya merupakan pernyataan dari semangat “bisa”-nya. Nampak penuh resiko saat Schram selanjutnya menekuni karir yang bergeser dari literatur Inggris ke pendidikan jurnalisme dan selanjutnya ke bidang baru tentang pembelajaran komunikasi yang ia ciptakan. Karakter semangat Schramm memenuhi kehidupan Schramm dan menjadi salah satu kualitas penting dirinya. Ia dapat melampaui secara luas di berbagai macam bidang. Pada tahun 1960-an, dimana ia sebagai anggota senior fakultas di Stanford, Schramm membeli instruksi diri manual dan mengajarkan dirinya FORTRAN computer program. Schramm menekuni dunia tulis-menulis selama 18 tahunnya di Stanford dengan menggunakan beberapa jenis tulisan elektronik. Hidup Schramm adalah tambang emas dari materi ketertarikan manusia. Wilbur Schramm memiliki kebaikan di hampir semua hal yang ia ambil dari pikirannya. Siapa saja yang mengenalnya dengan baik sering mendeskripsikan Schramm sebagai manusia yang bangkit kembali. Rasa percaya dirinya menunjukkan kualitas penting dari pendirian bidang akademik yang baru.

3. Workshop Penulisan Iowa
Dari tahun 1935 sampai 1942, Schramm menjadi asisten profesor pada jurusan Inggris di Universitas Iowa, dimana ia mencapai ketenaran dengan cepat sebaga direktur dari Workshop Penulis Iowa, beberapa teman dekat yang tergabung dalam kelompok mahasiswa yang telah lulus bekerja bersama Schramm dan beberapa anggota fakultas lain yang memiliki kemampuan yang menguntungkan di dunia menulis fiksi hingga para staff magang yang berpengalaman. Workshop tersebut mengemukakan tentang seminar kelulusan tentang tulisan fiksi yang diajarkan oleh Profesor Edwin Ford Piper untuk beberapa tahun di Universitas Iowa. Piper memberikan kursus pada fokus regional, penekanan budaya Iowa, dalam rangka menyeimbangkan penyimpangan yang kebanyakan terjadi di pesisir timur Amerika.
Pada gaya pengajaran ini, workshop bersifat partisipasi dan akrab. Schramm mengadakan konferensi individu dengan beberapa murid setiap minggu sekali di kantornya. Jika murid terebut menulis sesuatu yang siap dipertimbangkan oleh Schramm, ia harus mempresentasikan di seminar mingguan, yang mana sering diadakan dirumah Schramm. Dalam metode ini, walaupun tidak teratur, Workshop Penulis Iowa merupakan percobaan program doktor dalam komunikasi yang akan diluncurkan oleh Schramm sesudah itu di Iowa, Illinois dan Standford.
Schramm mendapat keuntungan yang pantas dipertimbangkan dengan memiliki reputasi sebagai penulis, artikel majalahnya diterbitkan ulang dalam sebuah kumpulan puisi, ia memenangkan juara tiga pada O.Henry Prize dalam dunia menulis fiksi pada tahun 1942, dan ia menerbitkan buku fiksi, Windwagon Smith and Other Yarns. Dia melanjutkan karirnya sebagai author dan profesor menulis fiksi, namun keadaan ini diselai oleh Perang Dunia ke 2. Schramm memiliki keahlian dalam teori ilmu sosial (social science theory) dan penelitian.

4. Perang Dunia II di Washington D.C.
Perang dunia ke-2 memiliki dampak luar biasa terhadap bidang komunikasi, hal tersebut membawa beberapa sarjana Amerika berpindah ke Eropa seperti Kurt Lewin, Paul F. Lazarsfeld, dan Theodor Adorno, hal inilah yang membuat sarjana Amerika seperti Carl I. Hovland dan Harold D. Laswell ke dalam penelitian komunikasi, dan hal tersebut menghubungkan para sarjana yang mengenalkan bidang pembelajaran komunikasi kedalam jaringan padat. Komunikasi merupakan suatu pertimbangan yang rumit dalam memberi tahukan kepada rakyat Amerika tentang gol perang suatu negara, dan berbagai macam makanan dan jatah gas dan pengorbanan kebutuhan lain dan hal ini memotivasi rakyat untuk membeli surat obligasi perang, untuk menghindarkan pembelian barang-barang sutra dan barang langka lainnya yang ada di pasar gelap, dan untuk memenangkan persaingan, juga mendukung usaha perang lewat jalur lain. Maka dari itu, penelitian komunikasi pada awalnya berpusat untuk mempelajari efek komunikasi. Konsensus ini menjelaskan tentang peran komunikasi selama Perang Dunia ke-2 terjadi, dan hal tersebut sebagian besar terjadi di Washington D.C.

5. Jaringan Ilmuwan Sosial
Selama Perang Dunia ke-2, Washington merupakan tempat bagi ilmuwan-ilmuwan sosial. Beberapa musuh Amerika mewakili kejahatan namun tidak mengurangi ilmuwan sosial yang menentang pernag walau jumlahnya sangat sedikit., khususnya setelah kejatuhan Perancis pada Juni 1940, ketika hal tersebut menjadi nyata bahwa Hitler mendominasi Eropa. Perang Amerika menjadi tujuan bersama para sarjana ini yang akan dating dan membawa mereka bersama kedalam jaringan hubungan yang secara keseluruhan mengakhiri karir mereka. Upaya perang ini menuntut pendekatan interdisiplin, yang sering berpusat pada masalah komunikasi. Perang Dunia ke-2 itu mendukung kondisi untuk pendirian studi komunikasi.
Tidak ada ilmuwan sosial yang tergabung dalam penyelenggaraan penelitian komunikasi pada saat perang yang sudah terlatih dalam studi komunikasi, tidak ada yang bergelar doctor komunikasi yang eksis pada waktu itu. Pemerintahan federal menggunakan penelitian komunikasi pada situasi gawat yang mendekati perang dan bermacam tipe penelitian komunikasi yang dibutuhkan secara detail, seperti misalnya content analysis, survey, dan studi panel. Memorandum ini menjadi dokumen pendirian untuk kemunculan bidang studi komunikasi. Pemerintahan federal berhubungan dengan beberapa tipe penelitian komunikasi selama Perang Dunia ke-2, yang mana masing-masing memiliki konsekuensi jangka panjang dalam bidang studi komunikasi.

6. Visi Schramm dalam Studi Komunikasi
Visi Schramm dibentuk selama 1942, saat ia menjadi direktur divisi pendidikan OFF dan yang terakhir pada OWI. Idenya tentang komunikasi mungkin tumbuh berangsur-angsur melalui kontak setiap hari dengan sarjana lain yang memiliki minat dalam memunculkan bidang komunikasi. Kelompok tersebut mencoba menilai melalui survey mengenai efek dari kegiatan komunikasi yang mereka lakukan terhadap publik. Tujuan utama dari perencanaan ini adalah untuk menyelesaikan kampanye komunikasi dalam skala besar yang dipandu oleh ahli-ahli terbaik yang ada, dengan feedback tentang menyajikan efek dari efek audience.

7. Program Iowa dalam Penelitian Komunikasi Massa
Saat Wilbur Schramm kembali ke kota Iowa, hal itu menjadi suatu kejadian kebetulan bahwa ia sedang mengalami ketegangan di sekolah jurnalistiknya di universitas. Merupakan hal yang aneh saat Schramm diangkat menjadi direktur karena ia tidak pernah punya waktu penuh sebagai jurnalis. Saat itu kebanyakan pengalamannya sebagai reporter atau editor dipertimbangkan sebagai kebutuhan yang esensial untuk ditetapkan menjadi profesor jurnalisme. Schramm tidak memiliki jiwa profesor jurnalisme, dan ia tidak mendapatkan kursus di bidang tulis menulis dan kemampuan editing kapanpun selama karirnya. Ia mengejar visi yang lebih luas dari studi komunikasi dan ia mempertimbangkan dirinya untuk beberapa tahun kedepan berada di sekolah jurnalisme.
Studi komunikasi tumbuh diluar perpustakaan dan ilmu informasi. Sebagai gantinya, Schramm mencocokkan visi studi komunikasinya ke dalam sekolah jurnalisme, hal ini dilakukan untuk membentuk dan menhambat jalur terpenting tentang apa yang dimaksud dengan bidang komunikasi yang akan datang. Inagurasi komunikasi pertama program Ph.D di sekolah jurnalistik adalah merupakan latihan professional yang berorientasi untuk mencetak saluran-saluran komunikasi, secara langsung dipimpin oleh divisi bidang komunikasi kedalam dua subdisiplin : komunikasi massa (mass communication) dan komunikasi antar pribadi (interpersonal communication). Program doctor lain dalam studi komunikasi yang diluncurkan selanjutnya yang berada di jurusan bicara/pidato dan stressing interpersonal interaction. Apalagi, Schramm memiliki gelar doktor di bidang humanistik dan hal tersebut tidak dapat diterima sebagai anggota fakultas suatu jurusan lainya. Sehingga ia meluncurkan disiplin komunikasi baru di sekolah jurnalistik walaupun kurikulum yang ia buat merupakan interdisiplin, menggambarkan tentang kursus dalam bidang psikologi, sosiologi dan ilmu politik.

8. Institut Penelitian Komunikasi
• The Research Division in The University of Minnesota’s School of Journalism, didirikan oleh Ralph Casey dan Ralph O. nafgizer pada tahun 1944 sekembalinya Nafgizer dari kerjanya di OFF/OWI. Ini merupakan pertama kalinya institute penelitian komunikasi berda di sekolah jurnalistik di Amerika.
• Schramm’s Bureau of Audience Research at the University Iowa pada tahun 1946.
• Schramm’s 1947 Institute of Communication Research at the University of Illinois.
• The Mass Communication Research Center at the University of Wincosin, didirikan tahun 1949 oleh Ralph O. Nafgizer setelah ia pindah ke Madison dari Minnesota.
• Chilton bush’s 1955 Insitute for Communication Research at Stanford University, yang mana diarahkan oleh Wilbur Schramm setelah tahun 1957.
• The Communication Research Center at Michigan State University, didirikan oleh Paul J. Deutschmann.
Institut penelitian ini menyajikan latihan magang untuk mahasiswa doktoral komunikasi dan membuatnya mudah untuk memperoleh disiplin ilmu sosial dalam penelitian komunikasi. Sosiolog dan psikolog mungkin lebih sedikit berpartisipasi dalam studi komunikasi jika kebanyakan berasal dari sekolah jurnalistik, dimana ilmuwan sosial yang lain dirasa tidak relevan terhadap minat penelitian mereka. Institut penelitian komunikasi menjadi suatu sumber yang bergengsi bagi sekolah jurnalistik yang mungkin diremehkan oleh ahli dibidang lain karena dianggap tradisi sekolah adalah latihan jurnalistik.
Institut penelitian dapat lebih fleksibel daripada jurusan di universitas. Hal ini lebih mudah dikenalkan daripada jurusan dan institut dapat memfasilitasi gabungan interdisiplin. Oleh karena itu institut merupakan tempat ideal dimana dapat memperkenalkan bidang baru dari studi komunikasi. Tetapi dari segi fleksibelitasnya juga membuat mereka peka, dan banyak dari institute penelitian komunikasi ditemukan pada era Schramm namun sekarang sudah tidak ada dan relative kurang sesuai.
Schramm memainkan peran kunci dalam sejarah studi komunikasi. Ia adalah pendiri dari suatu bidang, orang pertama yang mengidentifikasi dirinya sebagai sarjana komunikasi, ia menciptakan program tingkat akademik pertama dengan menamainya komunikasi, dan ia melatih generasi pertama dari sarjana komunikasi. Schramm memberikan hak terhadap buku Illinois yang membantu memperkenalkan bidang baru tersebut. Program komunikasi massa Schramm di Sekolah Jurnalistik Iowa merupakan proyek percobaan untuk program doktor dan institut penelitian komunikasi yang ia dirikan di 1947 di Urbana. Di Illinois, Wilbur Schramm mengatur pola gerakan dari kerja para sarjana dalam studi komunikasi yang berlanjut hingga hari ini.

9. Penetapan Kajian Komunikasi
Wilbur Schramm (1907-1987) merupakan pendiri bidang studi komunikasi. Tanpa pertanda dari Laswell, Lazarsfeld, Lewin, Hovland, Wiener dan Shanon, komunikasi tidak dapat mencapai sebagai suatu status, tetapi itu karena Schramm. Schramm mendirikan institut penelitian komunikasi di Iowa, Illinois dan Stanford yang mengadakan investigasi kesarjanaan, pelatihan Ph.D komunikasi yang baru dan selalu membawa bidang interdisiplin baru. Institusional komunikasi ini mengijinkan integrasi teori dan metode yang menyerang masalah dalam komunikasi manusia. Schramm sangat krusial dalam pembukaan studi komunikasi di tahun-tahun sesudah Perang Dunia ke-2. ialah orang pertama yang memiliki gelar profesor komunikasi.

10. Kontribusi Schramm dalam Kajian Komunikasi
Wilbur Schramm adalah pendiri studi komunikasi. Beliau dikenal sebagai Bapak Pelembaga kajian komunikasi. Beliau pula yang pertama kali menyebut diri sebagai sarjana komunikasi. Beberapa orang mendirikan bidang ilmu baru harus sesuai dengan visinya. Schramm membentuk visinya pada tahun1942 di Washington D.C, selama Perang Dunia ke-2. Ia kembali ke Universitas Iowa untuk mengenalkan visinya tentang studi komunikasi di sekolah jurnalistik. Selanjutnya penerimaan perspektif ini telah disiapkan oleh Daddy Bleyer, yang merupakan pendidik pelopor jurnalistik di Universitas Wisconsin, dan anak didiknya yang menganut jurnalisme dalam rangka mempertahankan penelitian di universitas-universitas membutuhkan dasar dari ilmu sosial. Studi komunikasi ada san menyebar di seluruh sekolah jurnalistik, sedikitnya di inisial era daripada diterapkan di jurusan komunikasi yang baru dibentuk. Kemudian dengan berangsur-angsur dan tanpa masalah Green-Eyeshades lawan Chi-Squares yang terjadi di jurnalistik, komunikasi juga menyerbu jurusan pidato atau bicara, dan memutarnya jauh dari humanistik dan menjadi retorika selanjutnya. Intisarinya, jurusan komunikasi antar pribadi memiliki orientasi yang kuat kearah psikologi.
Penambahan dari visinya, Wilbur Schramm memiliki kualitas penting untuk mendirikan bidang studi komunikasi. Ia menginvestasikan dalam jangka panjang untuk menerapkan idenya. Schramm adalah orang yang brilliant, penuh ide dan ia berhasil mengarang banyak buku tentang komunikasi massa. Ia memiliki pribadi yang mengasyikkan yang menyerang pelamar doktor dan membiayai penelitian pada institut penelitiannya. Hasil penting yang tidak dapat diragukan dari kerjanya adalah gelar Ph.D dalam komunikasi yang dapat menembus ke seberang dunia setelah dipelajari oleh Schramm dan Stanford untuk menyebarkan konsep studi komunikasi. Schramm memberikan penjelasan spesifik tentang bagaimana mempelajari bidang baru. Ia mempelajari spesialisasi penelitian baru seperti komunikasi internasional, pengembangan komunikasi dan efek televisi terhadap anak-anak.Yang paling penting, Wilbur Schramm menetapkan unit akademik yang pertama yang dinamakan “komunikasi” di Illinois dan selanjutnya di Stanford.
Schramm dikenal sebagai pendokumentasi pemikiran-pemikiran sejumlah ahli seperti Lasswell, Hovland, Shannon dan Weaver, dan sebagainya sebagai teks awal kajian komunikasi. Schramm pernah mengadakan penelitian mengenai Satelit Palapa di Indonesia bersama Go Chu dan beberapa sarjana politik Indonesia, yakni Dr. Alfian, M. Alwi Dahlan, serta pakar-pakar komunikasi generasi awal Indonesia lainnya. Selain itu, Schramm juga berinteraksi dengan sejumlah tokoh komunikasi seperti Elihu Katz dan Gregory Bateson. Kajian komunikasi di Indonesia yang sejak Orde Baru sangat kental mendapat warna dari tradisi yang dikembangkan oleh Schramm.


B. BEBERAPA PEMIKIRAN SCHRAMM
1. Definisi Teori
Dalam buku Introduction to Mass Communication Research (Nafgizer & White, 1972:10) mendefinisikan teori sebagai:
“Suatu perangkat pernyataan yang saling berkaitan, pada abstraksi dengan kadar yang tinggi, dan daripadanya proposisi bisa dihasilkan yang dapat diuji secara ilmiah, dan pada landasannya dapat dilakukan prediksi mengenai perilaku.”
Dari definisi tersebut, sudah jelas bahwa teori merupakan hasil telaah dengan metode ilmiah., yakni metode penyelidikan atau metode pemapanan kebenaran yang menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut:
a. Obyektivitas (objectivity)
Metode ilmiah mencari fakta dengan menganalisis informasi dari dunia nyata (real world), yaitu dunia di luar si ilmuwan yang meneliti. Fakta dipilih bukan karena mendukung keinginan si ilmuwan, namun karena dapat diuji secara berulang-ulang oleh peneliti lain.
Obyektivitas dapat dicapai paling tidak dengan 2 cara, yaitu:
1. Empirisme (empirism)
Mensyaratkan suatu kepercayaan atau proporsisi harus diuji dalam dunia nyata, yakni dunia yang dapat diindera (dilihat, dirasakan, diraba) atau dapat dialami.
2. Logika formal (formal logic)
Mengkaji kondisi-kondisi dimana kepercayaan/proposisi perlu mengikutinya dan karenanya dapat ditarik kesimpulan dari proposisi-proposisi lainnya.

b. Berorientasikan masalah (problem oriented)
Metode ilmiah akan dapat dimulai hanya jika seorang peneliti mengkaji adanya masalah, baik yang praktis maupun teoretis, yang memerlukan keputusan. Masalah seringkali dirumuskan dalam bentuk pertanyaan ”mengapa.........?”. Ini dapat timbul dari rasa penasaran yang sederhana saja atau dari hasrat peneliti untuk menemukan keteraturan di antara fakta/pengamatan, sedemikian rupa sehingga dapat mengerti lingkungannya lebih baik. Menemukan pemecahan mengenai suatu masalah merupakan suatu metode ilmiah yang penting.

c. Dipandu hipotesis (hypothesis guided)
Metode ilmiah dipandu oleh hipotesis. Sebuah hipotesis adalah keterangan/keputusan yang diajukan kepada masalah untuk memulai penelitian. Hipotesis biasanya diformulasikan dalam ungkapan/pernyataan “Jika….,maka….”, yang menyarankan hubungan antara fakta dengan pengamatan. Apabila suatu pengamatan/observasi terbukti benar, maka pengamatan selanjutnya juga harus benar. Ciri hipotesis yang baik adalah :
1. Terpaut (relational)
2. Berdasarkan pengetahuan terdahulu (based on previous knowledge)
3. Verifikasi obyektif (objective verification).

d. Berorientasikan teori (Theory oriented)
Tujuan jangka panjang metode ilmiah adalah merumuskan teori. Teori merupakan seperangkat dalil/prinsip umum yang saling terkait (hipotesis yang diuji berulangkali) mengenai aspek-aspek suatu realitas (Theory is a set of interrealated law or general principles hypothesis that have been repeatedly verivied about some aspect or reality).

e. Korektif mandiri (self-corrective)
Sifat korektif mandiri dari ilmu menyebabkan perlunya bagi ilmuwan untuk memberikan keleluasaan kepada ilmuwan lain dalam bidang yang sama untuk menelitinya secara mendalam. Hal ini bukan saja untuk menyebarkan pengetahuan baru yang menjadi landasan bagi penyelidikan lain, namun juga untuk memungkinkan penggunaan prosedur yang sama dalam situasi yang berbeda. Dalam hal ini nilai tertentu terletak pada publikasi/diseminasi metode, tujuan dan hasil penelitian ilmiah.
Demikian proses terjadinya suatu teori. Teori seringkali dibandingkan-disamakan dan dibedakan-dengan model. Dalam ilmu komunikasi, teori sering dipertukarkan dengan model konvergensi sehingga adakalanya disebut sebagai teori konvergensi, model difusi inovasi dikatakan teori difusi inovasi, teori inokulasi dinyatakan sebagai model inokulasi dan sebagainya.

2.Model Komunikasi
Schramm membuat serangkai model komunikasi, dimulai dengan model komunikasi manusia yang sederhana (1954), lalu model yang lebih rumit yang memperhitungkan pengalaman dua individu yang mencoba berkomunikasi, hingga ke model komunikasi yang dianggap interaksi dua individu.
Model yang pertama mirip dengan model Shannon dan Weaver. Dalam modelnya yang kedua, Schramm memperkenalkan gagasan bahwa kesamaan dalam bidang pengalaman sumber dan sasaran-lah yang sebenarnya dikomunikasikan, karena bagian sinyal itulah yang dianut sama oleh sumber dan sasaran. Model ketiga, Schramm menganggap komunikasi sebagai interaksi dengan kedua pihak yang menyandi, menafsirkan, menyendi-balik, mentransmisikan dan menerima sinyal. Di sini kita melihat umpan balik dan ”lingkaran” yang berkelanjutan untuk berbagi informasi.
Pada model ketiga ini, Schramm bekerjasama dengan Osgood sehingga dikenal sebagai model sirkular Osgood dan Schramm (The Osgood and Schramm Circular Model). Jika model Shannon dan Weaver merupakan proses yang linear, model ini dinilai sebagai sirkular dalam derajat yang tinggi. Perbedaan lainnya ialah apabila Shannon dan Weaver menitikberatkan perhatiannya langsung kepada saluran yang menghubungkan pengirim (sender) dan penerima (receiver) atau dengan kata lain, komunikator dan komunikan. Schramm dan Osgood menitikberatkan pembahasannya pada perilaku pelaku-pelaku utama dalam proses komunikasi. Shannon dan Weaver membedakan source dengan transmitter dan antara receiver dengan distination. Dengan kata lain, dua fungsi dipenuhi pada sisi pengiriman (transmitting) dan pada sisi penerimaan (receiving) dari proses. Pada Schramm dan Osgood ditunjukkan fungsinya yang hampir sama. Digambarkan dua pihak berperilaku sama, yaitu encoding (menyandi), decoding (menyandi-balik) dan interpreting (menafsirkan).

3. Teori-teori Schramm
Beberapa teori yang pernah dikemukakan oleh Wilbur Schramm antara lain:
a. Teori Peluru (The Bullet Theory of Communication)
Teori ini merupakan konsep awal sebagai efek komunikasi massa yang oleh para teoretisi komunikasi tahun 1970-an dinamakan pula hypodemic needle theory yang dapat diterjemahkan sebagai teori harum hipodermik. Teori ini ditampilkan pada tahun 1950-an setelah peristiwa penyiaran kaleidoskop stasiun radio CBS di Amerika berjudul “The Invasion from Mars”.
Pada tahun tersebut, Schramm mengemukakan bahwa seorang komunikator dapat menembakkan peluru komunikasi yang begitu ajaib kepada khalayak yang pasif tidak berdaya.
Namun dalam karya tulisnya yang diterbitkan pada awal tahun 1970-an, Schramm meminta kepada para peminatnya agar teori peluru komunikasi itu dianggap tidak ada, sebab khalayak yang menjadi sasaran media massa itu ternyata tidak pasif.
Pernyataan Schramm tentang pencabutan teorinya itu didukung oleh Paul F. Lazarsfeld dan Raymond Bauer. Lazarsfeld mengatakan bahwa jika khalayak diterpa peluru komunikasi, mereka tidak jatuh terjerembab. Kadang-kadang peluru itu tidak menembus. Adakalanya pula efek yang timbul berlainan dengan tujuan si penembak. Sering pula khalayak yang dijadikan sasaran senang untuk ditembak.

b. Teori Komunis Soviet (Soviet Communist Theory)
Teori-teori komunikasi berlangsung secara berkesinambungan, artinya suatu teori yang digunakan sebagai landasan pemikiran dalam suatu penelitian atau dipakai sebagai pendekatan dalam menelaah suatu fenomena. Bisa merupakan teori lama yang ditampilkan seorang cendekiawan satu dekade sebelumnya, bahkan lebih lama daripada itu.
Tiga orang cendekiawan Amerika, yaitu Fred S. Siebert, Theodore Peterson dan Wilbur Schramm menerbitkan sebuah buku yang berjudul Four Theories of the Press: The Eutoritarian, Libertarian, Social Responsibility, and Soviet Communist Concepts of What the Press Should Be and Do pada tahun 1956. Buku tersebut mengupas empat buah sistem pers yang berlaku di berbagai negara di dunia, yakni Authoritarian Theory (abad 15-16), Liberitarian Theory (abad 17-18),, Soviet Communist Theory (Marxist) dan Social Responsibility Theory (abad ke-20).
Pada awalnya, keempat teori tersebut memang teori pers, namun kemudian seirama dengan perkembangan media massa yang meliputi radio siaran, televisi siaran, film teatrikal, dan lain-lain, maka teori tersebut menjadi teori media massa. Dengan kata lain, teori pers yang semula hanya mengenai pers dalam arti sempit, kini menjadi pengertian pers dalam arti luas, yang jika dikaitkan dengan kegiatannya, tidak hanya jurnalistik cetak tetapi juga jurnalis elektronik.
Fred S. Siebert, Theodore Peterson dan Wilbur Schramm merupakan tokoh pers dunia dan teori-teori pers yang mereka ciptakan menjadi sumber rujukan para praktisi, mahasiswa dan perguruan tinggi. Buku , Four Theories of the Press: The Eutoritarian, Libertarian, Social Responsibility, and Soviet Communist Concepts of What the Press Should Be and Do dimaksudkan untuk menjelaskan perkembangan kondisi pers dunia di masa lampau dan memasuki era pra- perang dingin antara Barat dan Timur.
Pentingnya kedudukan pers demi perdamaian dunia yang demokratis, PBB secara khusus membahas masalah kemerdekaan pers di Geneva, Swis 23 Maret 1948. Prinsip dasar konferensi tersebut adalah adanya pengakuan PBB terhadap kemerdekaan pers sebagai "hak dasar manusia". Sedangkan Pasal 19 Deklarasi Hak Asasi Manusia menjelaskan pula bahwa setiap orang berhak dan bebas mencari, menerima dan menyampaikan informasi dan pendapat dengan cara apapun tanpa memandang batas-batas.
Teori Komunis Soviet (Soviet Communist Theory) dikupas oleh Schramm dengan kacamata Amerika yang orientasinya lain untuk tidak mengatakan bertentangan. Dalam kupasannya tersebut, Schramm mencoba menyelusuri dari akarnya, yakni pemikiran Karl Marx melalui pertumbuhan di zaman Lenin dan Stalin. Seperti diketahui pemikiran Marx dipengaruhi oleh konsep dialektika dari Hegel, dimana kedua kekuatan yang bertentangan (tese dan antitese) mengubah perbedaannya menjadi sintese. Pada gilirannya, sintese ini menjadi suatu tese baru yang ditentang oleh aliran antitese baru yang kemudian menimbulkan sintese baru. Demikian seterusnya sepanjang sejarah.
Schramm mengatakan bahwa sumbangan besar dari Marx adalah penjungkirbalikkan dialektika Hegel. Jadi Marx membuat dialektikanya realistik, kebalikan dari idealistik. Dia menyatakan bahwa kondisi hidup yang bersifat material terutama cara manusia mengelola hidupnya dan jenis kehidupan yang ia kelola untuk menentukan idea manusia. Dengan kata lain, ekonomi, sistem kekuatan produktif dan hubungan produktif merupakan faktor sentral bagi kehidupan manusia, suatu fakta yang menentukan sifat kehidupan masyarakat.
Schramm juga berpendapat bahwa pengawasan terhadap media massa harus berpijak pada mereka yang memiliki fasilitas, sarana percetakan, stasiun siaran, dan lain-lain. Selama kelas kapitalis mengawasi fasilitas fisik ini, kelas buruh tidak akan mempunyai peran pada saluran-saluran komunikasi. Kelas buruh harus mempunyai saluran komunikasi sendiri. Demikian pula kaum buruh harus berpikir bahwa kebebasan pers yang sebenarnya tidak ada kecuali dalam masyarakat tanpa kelas, dimana kelas kerja telah merebut perlengkapan komunikasi dan tidak takut lagi akan pengawasan para pemilik borjuis.

C. KARYA-KARYA SCHRAMM
Sebagai penulis yang produktif, Wilbur Schramm telah berhasil menulis beberapa judul buku, antara lain:
1. Men, Messages and Media (1973).
2. Beginnings of Communication Study in America: A Personal Memoir (April 1997). Ditulis bersama Everett M. Rogers dan Steven H. Chaffee.
3. Four Theories of the Press: The Eutoritarian, Libertarian, Social Responsibility, and Soviet Communist Concepts of What the Press Should Be and Do. Ditulis bersama Theodore Peterson, dan Frederick S. Siebert.
4. Big Media, Little Media: Tools and Technologies for Instruction (Januari 1977).
5. The Science of Human Communication (1963).
6. Story of Human Communication: Cave Painting to Microchip (Januari 1988).
7. Television in the Lives of Our Children (Juni 1961).
8. Responsibility in Mass Communication, 3rd Edition (Januari 1980). Ditulis bersama William Rivers dan Clifford G. Christians.
9. The Process and Effects of Mass Communication (Revised) (Oktober 1971).
10. Communication And Change: The Last Ten Years – And The Next. Sebagai editor bersama Daniel Lerner.
11. International Encyclopedia of Communications (Maret 1989). Ditulis bersama Erik Barnouw, George Gerbner dan Et Al sebagai editor.
12. Messages: A Reader in Human Communication (1974).
13. Wilbur Schramm and the Beginnings of American Communication Theory: A History of Ideas (1988). Merupakan disertasi Ph.D. dari Universitas Iowa.

D. MASALAH PARADIGMA DALAM JURNALISME
Dalam Four Theories of the Press: The Eutoritarian, Libertarian, Social Responsibility, and Soviet Communist Concepts of What the Press Should Be and Do, Schramm dkk. Menjelaskan bahwa keberadaan media massa biasa disikapi dengan dua cara, pertama dipandang sebagai pembentuk (moulder) masyarakat, atau kedua sebagai cermin (mirror) yang memantulkan keadaan masyarakat. Yang pertama bertolak dari paradigma yang menempatkan media sebagai suatu instrumen yang memiliki daya yang kuat dalam mempengaruhi alam pikiran warga masyarakat. Posisi media semacam ini akan melihat keberadaan media massa sebagai faktor penting yang memiliki daya mempengaruhi sasarannya. Sejumlah ahli bahkan merumuskan bahwa setiap komunikasi dengan media massa pada dasarnya berpretensi untuk mengubah sasaran agar sesuai dengan kehendak komunikator.
Paradigma ini menempatkan komunikan sebagai obyek yang pasif, yang dapat diubah dan dibentuk oleh pihak komunikator. Media massa dimaksudkan untuk mewujudkan kepentingan komunikator. Kepentingan ini dapat diartikan secara luas, mulai dari misi keagamaan, ideologi, kekuasaan politik, sampai pragmatis ekonomi . Tradisi media massa di negara komunis dengan jelas dapat dilihat sebagai contoh soal media massa berdasarkan paradigma ini.
Dari uraian sebelumnya, maka dapat kita lihat bahwa Wilbur Schramm menggunakan penelitian empiris, misalnya dengan mendirikan institut penelitian komunikasi di sekolah-sekolah jurnalistik. Wilbur Schramm juga mengadakan survey terhadap tingkah laku murid-muridnya, misalnya dengan seminar mingguan yang dilakukan dirumahnya untuk mengontrol bagaimana perkembangan studi komunikasi yang diterapkan dalam sistem pengajaran. Oleh karena itu paradigma yang dianut oleh Wilbur Schramm adalah positivistik.
Wilbur Schramm menganut paradigma positivistik karena ia telah menemukan suatu hukum alam atau bidang studi baru dalam kehidupan manusia dimana bidang baru tersebut dapat digunakan untuk memprediksi dan mengontrol suatu kejadian atau peristiwa nantinya. Hal ini tertuang dalam contoh bahwa studi komunikasi yang didirikan oleh Wilbur Schramm pada saat terjadinya Perang Dunia ke-2 dimana pada saat itu komunikasi menjadi suatu hal yang sangat krusial untuk memahami masalah peperangan.
Selain itu komunikasi disini dilihat sebagai suatu pola yang sudah ada dan teratur dimana Wilbur Schramm mengkaji lebih dalam dan merumuskan kembali menjadi suatu kajian dan studi baru yang kompleks dan dapat dipelajari. Ditinjau dari penafsiran komunikasi yang didirikan oleh Wilbur Schramm maka komunikasi ini dapat dikatakan valid dikarenakan telah melalui beberapa penelitian, komunikasi juga merupakan penggabungan teori dan metode bukan hasil penafsiran dan pengertian individual saja, buktinya adalah komunikasi dapat dipastikan dan dapat dikaji sesuai dengan teori-teori yang berkaitan dengan komunikasi tersebut.
Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Wilbur Schramm adalah merupakan Administrative Research dimana teori dasar berdirinya komunikasi sifatnya universaldan bisa digunakan dimana-mana untuk menjelaskan suatu fenomena yang terjadi. Komunikasi yang didirikan oleh Wibur Schramm ini berasal dari kajian jurnalistik yang pernah ditekuni oleh Schramm, oleh karena itu pula lah metode yang digunakan Schramm adalah Administrative Research dimana Administrative Research mengkaji tentang media massa yang berguna dan fungsional bagi masyarakat. Hal ini juga dapat terlihat dari usaha Schramm saat pertama masuk dalam sekolah jurnalistik adalah berusaha untuk menciptakan saluran-saluran dan media yang dapat membantu proses, pengenalan dan pengembangan suatu bidang baru yang ditemukannya yang disebut sebagai komunikasi.
Dengan berkembangnya kajian tentang studi komunikasi maka dapat dinilai bahwa ilmu pengetahuan yang didirikan Schramm merupakan ilmu yang bebas nilai, netral dan obyektif. Oleh karena itu Wilbur Schramm disebut juga sebagai Pendiri Bidang Komunikasi dengan menggunakan pendekatan Administrative Research, mengacu pada paradigma Positivistik.

Proses Komunikasi

BEBERAPA PROSES YANG TERDAPAT DALAM KOMUNIKASI

Penulis : IDA YUSTINA
Bagian Administrasi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyrakat
Universitas Sumatera Utara

Komunikasi telah menjadi suatu bidang yang amat luas cakupannya. Hampir semua aktivitas manusia tidak terlepas dari komunikasi dalam berbagai cara apakah itu secara verbal, tulisan, gestural, dan bentuk komunikasi lainnya. Sebagai suatu proses, komunikasi mempunyai asumsi dasar bahwa dengan berkomunikasi, seseorang depat ditingkatkan kemampuan dasarnya untuk kemudia dapat mengatasi segala persoalan komunikasi yang dihadapinya. Aristotle mendefinisikan bahwa tujuan rhetoric (komunikasi) adalah persuasi. Perkembangan ilmu psikologi pada akhir abad 18 mempengaruhi tujuan rhetoric ini menjadi tiga, yakni :
1) Informatif
2) persuasif
3) entertainment

Namun konsep ini dikritik oleh kelompok behaviorists yang mengatakan bahwa semua penggunaan bahasa mengandung unsur persuasif. Mereka juga pendapat bahwa tujuan komunikasl bukan berorientasi pada behavior, tetapi pada message pesan. Dalam kaitan ini Berlo menyusun empat kriteria yang menjadi tujuan komunikasi, yaitu :
1) tidak ada pertentangan,
2) berorientasi pada tingkah laku manusia
3) dapat dihubungkan dengan dengan perilaku komunikasi yang ada dalam masyarakat
4) konsisten dengan cara-cara berkomunikasi masyarakat.

Menurut Berlo ada ukuran tujuan komunikasi (Dim ension of Purpose), yakni:
A. Kepada "Siapa" Seseorang Melakukan Komunikasi. Dalam hal ini harus dibedakan antara sasaran yang dituju (Intended receiver) dengan sasaran yang bukan dituju (unitended receiver). Dalam berkomunikasi paling sedikit terdapat dua keinginan bereaksi :
1) oleh si pembuat pesan (source) dan
2) oleh si penerima pesan (receiver).
B. Bagaimana Seseorang Melakukan Komunikasi. Tujuan komunikasi dapat diletakan di sepanjang ukuran continum, yang menunjukkan apakah tujuan itu segera diperoleh (consum story purpose) atau tertunda (Instrumental purpose). Schramm menyebutnya sebagai "lmmediate reward" dan "delayed reward". Komunikasi Sebagai Proses Proses adalah "segala gejala yang mengalami perubahan secara terus- menerus"atau "segala kejadian yang berlangsung terus-menerus". Dalam menganalisa komunikasi sebagai suatu proses, harus dilihat terlebih dahulu unsur-unsur yang menyebabkan terjadinya sebuah komunikasi, seperti siapa yang berkomunikasi, mengapa dia berkomunikasi, dan kepada siapa komunikasi itu ditujukan. Kita juga harus melihat perilaku komunikasi yang terjadi: pesan yang dihasilkan, apa yang cara dilakukan orang untuk berkomunikasi, bagaimana orang mengkemas pesan-pesannya, saluran yang dipergunakan untuk menyampaikan pesan kepada pendengar atau pembacanya.

Dalam Rhetoric, Aristotle mengotakan bahwa ada tiga unsur komunikasi yang penting, yakni: pembaca, pidato, dan pendengar. Shannon-Weaver mengembangkan model komunikasi melalui alat eletronik yakni meliputi: © 2004 Digitized by USU digital library 1
1).sumber,
2) penghubung,
3) sinyal,
4) penerima dengan tujuan.
Model-model proses komunikasi lainnya dikembangkan oleh Schram M.Westleg dan Mac Lean, Fearing, Johnson dan lainya. Model Komunikasi Serlo membuat model komunikasl melalui unsur-unsur:
1). sumber komunikasi,
2) alat penyampai pesan,
3) pesan,
4) media atau saluran yang digunakan,
5) alat penerima pesan
6) penerima komunikasi.
Unsur-unsur di alas sangat penting dalam komunikasi, terlepas apakah kita berbicara tentang komunikasi seseorang, dua orang atau sebuah kerjasama International. Unsur-unsur tersebut tidak dapat berdiri sendiri karena merupakan sebuah proses. Semua unsur itu mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Dalam komunikasl, sumber dan penerima harus dalam sistem yang sama. Jika tidak, komunikasi tidak akan terjadi. Ketepatan Komunikasi Dalam membahas ketepatan komunikasi eletronik, Shannon den Weaver memperkenalkan konsep "noise" yang diartikan mereka sebagai faktor-fektor yang mengganggu kualitas sebuah signal.
Merujuk konsep tersebut, Berlo mendefinisikan "noise" dalam proses komunikasi sebagai faktor-faktor dalam unsur-unsur komunikasi yang dapat mengurangi keefektifan komunikasi. Menurut Berlo, "noise" dan "fidelty" merupakan dua sisi dari mata uang yang sama. Mengurangl "noise" (keributan) berarti meningkatkan "fidelity" (ketepatan), demikian sebaliknya.
Adapun faktor–faktor yang menentukan efektif tidaknya komunikasi tersebut meliputi :
1. The Source-Encoder. Dalam hal ini terdapat empat faktor yang meleket dalam diri sumber, yang dapat meningkatkan ketepatan komunikasi, yakni
a). keterampilan berkomunikasi
b). sikap mental
c). tingkat pengetahuan dan
d). posisinya dalam sistem sosial kultural.
Tingkat keterampilan berkomunikasi sumber menentukan ketepatan komunikasi dalam dua cara. Pertama, mempengaruhi kemampuan dalam berbicara, dan yang kedua mempengaruhi kemampuan menyampaikan pessn seperti yang kita maksudkan. Mengenai sikap mental, ada tiga tipe sikap sumber yang dapat mempengaruhi proses komunikasi, yakni terhadap:
a). diri sumber sendiri
b).Subject matterdan
d) terhadap penerima pesan (receiver).
Tingkat pengetahuan sumber juga akan menentukan seberapa jauh dia memahami sikap mentalnya sendiri, kerakteristik receiver, dengan cara bagaimana dia menyampaikan pesannya, jenis-jenis saluran yang dipilihnya, dan sebagainya. Faktor yang keempat adalah sistem sosial budaya yang melatar belakangi sumber. Faktor ini sangat mempengaruhi perilaku komunikail sumber.
2. The Decoder-Receiver. Pada prinsipnya, faktor-faktor yang melekat dalam diri penerima pesan sama dengan sumber. Dengan kata lain, receiver juga harus mempunyai keterampilan berkomunikasi, sehingga dapat menerima pesan. Begitu pula dengan sikap mental, tingkat pengetahuan dan sistem sosial budaya receiver, mempengaruhinya dalam menerima pesan yang disampaikan sumber.
3. Pesan.
Ada tiga faktor yang perlu diperhatikan dalam pesan:
1). Kode pesan,
2). Isi pesan,
3). Perlakuan terhadap pesan.
Kode pesan adalah setiap kelompok simbol yang dapat disusun sedemikian rupa, yang mempunyai arti bagi sebagian orang. Isi pesan dapat didefinisikan sebagai meteri yang dipilih sumber untuk menyampaikan tujuannya. Sedangkan perlakuan terhadap pesan adalah keputusan-keputusan yang diambil sumber dalam memilih dan menyusun kode isi pesan.
4. Saluran Faktor ini menyangkut cara-cara penyampaian dan penerimaan pesan, pembawa pesan (vehicle carriers) yang mempengaruhi efisiensi dan efektifnya komunikasi. Komunikasi Sebagai Proses Belajar Berbicara tentang komunikasi dalam konteks perorangan pada dasarnya berbicara tentang bagaimana orang belajar.
Dalam hal ini belajar menggunakan istilah "stimulus" den "respon". Stimulus diartikan sebagai segala kejadian yang dapat dirasakan oleh seseorang, dengan kata lain segala sesuatu yang dapat diterima orang melalui salah satu alat penginderaannya (penglihatan, pendengaran dan lainnya). Sedangkan respon diartikan sebagai reaksi seseorang terhadap stimulus, atau perilaku yang timbul karena adanya stimulus. Respon dapat dibedakan atas: respon yang terbuka (overt responses) yakni yang dapat diamati, dirasakan, dieteksi, den respon yang tertutup (covert responses). yakni respon yang terdapat di dalam diri seseorang; tidak dapat diamati, bersifat pribadi.
Belajar didefinisikan sebagai suatu perubahan dalam hubungan yang stabil antara:
a). suatu stimulus yang dirasakan seseorang dan
b). respon yang dilakukan, baik tertutup maupun terbuka.
Suatu proses belajar terjadi jika seseorang:
1). Melakukan respon yang sama secara terus menerus terhadap stimulus yang berbeda,
2). Melakukan respon yang berbeda terhadap stimulus yang sama.
Proses belajar meliputi adanya stimulus (segala sesuatu yang dapat dirasakan oleh organisme). Selanjutnya, organisme harus merasakan objek yang menjadi stimulus, menginterpretasikannya, untuk selanjutnya melahirkan respon. Meskipun demikian, seseorang belum bisa dikatakan belajar hanya disebabkan dia membuat sekali atau duakan respon. Belajar terjadi jika merespon stimulus tersebut menjadi kebiasaan (habit). Untuk membentuk kebiasaan ini, belasan atas respon (reward) merupakan faktor yang mempengaruhi. Seseorang akan mengulangi responnya jika medapat balasan.
Berlo menyebut lima faktor yang dapat memperkuat kebiasaan.
Pertama, frekuensi pengulangan balasan: adanya stimulus menimbulkan respon, dan jika respon ini mendapat balasan, akan memperkuat kebiasaan.
Kedua, mengisolasi hubungan S (stimulus) R (Respon): organisme tldak memberikan respon yang sama terhadap stimulus yang berbeda.
Ketiga, banyaknya balasan : lebih banyak balasan, akan lebih memperkuat kebiasaan.
Keempat, selang waktu antara respon-balasan: lebih cepat sseseorang merasakan balasan responnya, lebih besar kemungkinan dirinya mempertahankan respon.
Kelima, usaha yang diperlukan untuk merespon: respon yang dapat dilakukan dengan mudah akan lebih bertahan dibanding respon yang sulit untuk dilakukan.
Komunikasi dan belajar : Proses yang Memiliki Kesamaan. Komunikasi dan belajar mempunyai unsur-unsur yang sama dengan unsur-unsur yang dimiliki belajar. Perbedaan hanya terjadi dalam memulai prosesnya. Belajar selalu dimulai dengan mempersepsikan suatu stimulus (decodea message), sedangkan komunikasi dimulai tujuan sumber berkomunikasi (interpretation) .

Interaksi Dalam semua situasi komunikasi, sumber dan penerima pesan mempunyai ketergantungan satu sama lain. Tingkat ketergantungan yang paling tinggi terdapat dalam konsep dyadic, yang memperlihatkan adanya hubungan antara berbagai kejadian yang tidak dapat berdiri sendiri.
Berlo membedakan empat tingkat ketergantungan komunikasi, yakni:
Ketergantungan: 1)fisik, 2). Ketergantungan aksi-reaksi, 3). Empathy dan, 4). Interaksi.
1. Ketergantungan fisik (Definitional-Physical interdependence). Pada tingkatan ini, sumber dan penerimaan berada dalam ketergantungan yang bersifat fisik. Meskipun terjadi komunikasi, namun antara sumber dan penerimaan tidak bereaksi terhadap masing-masing pesan.

2. Ketergantungan Aksi-Reaksi (Action-Reaction Interdependence). Komunikasi umumnya meliputi tingkat ketergantungan ini. Aksi dari sumber mempengaruhi reaksi penerima; reaksi dari penerima kemudian mempengaruhi reaksi sumber lagi dan seterusnya. Dalam hal ini antara sumber dan penerima dapat menggunakan reaksi masing-masing. Reaksi yang merupakan umpan balik tersebut digunakan sumber ataupun penerima untuk memeriksa, menentukan bagaimana sebaiknya mereka menyempurnakan tujuannya. Jika umpan balik dimaksud mendapat balasan dengan balk, maka sumber/penerima akan meneruskan cara-caranya yang sama. Namun jika tidak, sumber/penerima akan mengganti pesan mereka dengan cara-cara yang lain.

3. Empathy. Komunikasi urnumnya meliputi gambaran tentang tanggapan atas pesan yang disampaikan. Dalam hal ini terdapat harapan yang digunakan dalam mengkode, menerima code, dan merespon pesan. Harapan yang diberikan pihak-pihak yang berkomunikasi dipengaruhi oleh keterampilan komunikasi, sikap, pengetahuan dan sistem sosial kultural. Untuk mengetahui harapan penerima pesan, kita harus mempunyai keterampilan yang dalam ilmu psikologi disebut empathy, yakni kemampuan untuk memproyeksikan diri kita kepada kepribadian orang lain. Sehubungan ini ada dua teori empathy:
1). Inference Theory of Empathy dan
2).Role-Taking Theory of Empathy.

4. Interaksi. Tingkat terakhir dari ketergantungan yang kompleks adalah interaksi, yang merupakan istilah dari proses saling berperan, perwujudan dari perilaku yang empathic. Jika dua individu membuat kesimpulan tentang masing-masing peran mereka pada saat yang sama, dan jika tingkah laku komunikasi mereka tergantung pada saling memberi peran, maka mereka berkomunikasi dengan berinteraksi satu dengan yang lain. Konsep Interaksi merupakan inti untuk memahami konsep proses komunikasi. Dalam komunikasi, kita harus mempredikasi bagaimana orang lain berperilaku.

Seperti diketahui bahwa saling memberi peran (role taking), empathy, dan interaksi digunakan sebagai alat untuk meningkatkan komunikasi yang efektif, Namun ketiga aspek tersebut paling tidak memillki dua kelemahan:
1) role taking dan interaksi dalam prosesnya memerlukan energi yang cukup besar,
2) prediksi yang emphatic memerlukan beberapa prasyarat yang terkadang tidak dapat ditemukan. Keberhasilan dalam membuat prediksi dari role taking bersandar pada asumsi:
1) kita tidak berbicara dengan banyak orang,
2) sebelumnya kita memiliki pengalaman dengan orang-orang tersebut, dengan demikian kita mempunyai dasar untuk membuat prediksi tentang mereka,
3) kita sensitif dengan perilaku manusia, dan
4) kita termotivasi untuk berinteraksi.

Komunikasi dan Sistem Sosial Sistem sosial adalah kumpulan dari peran-peran ketergantungan. Dalam membicarakan sistem sosial, kita membentuk perilaku peran (role behavior) yang menempati suatu kedudukan (role position) dalam struktur sosial.
Role behavior dapat dibagi atas dua kelompok: the must's (yang seharusnya) dan the may's (yang boleh). Perilaku seseorang yang menempati peran apapun dapat dianalisa dengan konsep "the must's" den "the may's" Ini. Kita dapat menentukan keseluruhan sistem perilaku peran secara eksplisit. Dalam setiap kelompok, terdapat tekanan group untuk meyakinkan bahwa anggota group menyesuaikan peran-peran mereka. Jika anggota merespon tekanan ini, yakni melakukan the must's, anggota tersebut diberi sesuatu (reward). Namun jika mereka menyimpang dari perilaku yang telah ditentukan, mereka dihukum, bahkan boleh jadi dikeluarkan dari group. Tekanan group inilah yang disebut norma.

Dalam membicarakan tujuan group, perlu dibedakan antara produktivitas atau tugas untuk menyempurnakan tujuan, dengan upah atau pencapaian kepuasan anggota. Komunikasi dengan organisasi sosial paling tidak berhubungan dalam tiga cara.
1) sistem sosial diproduksi melalui komunikasi.
2) pembangunan sebuah sistem sosial ditentukan oleh komunikasi anggotanya.
3) komunikasi mempengaruhi sosial sistem dan sebaliknya, sistem sosial mempengaruhi komunikasi.
Pengetahuan tentang suatu sistem sosial dapat membantu kita untuk membuat ramalan yang akurat tentang orang, tanpa memerlukan emphaty atau interaksi, tanpa mengetahui segala sesuatu tentang orang tersebut, kecuali hanya peran-peran yang mereka miliki dalam sistem. Kegagalan komunlkasi dapat disebabkan kesalahan dalam: peramalan role behavior, role position, multiple roles, konflik peran dan norma, dan komunikasi lintas sistem sosial. Makna dalam Komunikasi Makna (meaning) adalah inti dari komunikasi.

Dalam komunikasi, sumber maupun penerimaan berusaha memilih kata-kata yang menjelaskan pengertian masing-masing. Kata-kata tersebut merupakan pesan (message), Ide yang diekspresikan dengan cara-cara tertentu (perlakuan) melalui penggunaan kode. Dalam artikelnya "The Origins of Language", Thorndike menyatakan ada empat hipotesa tentang dasar kegunaan suara-suara manusia yang mengekspresikan maksudnya. Empat kelompok itu adalah "ding-dong", "bow- bow", "pooh-pooh, dan "yum-yum".

A). Teori "Ding-dong" menyatakan bahwa suara memberi arti pada sesuatu di mana setiap orang memberikan arjti yang sama.
B). Teori "Bow-Bow", manusia meniru bunyi-bunyi (suara) yang dihasilkan binatang.
C). Teori "Pooh-Pooh" menyebutkan, manusia membuat suara-suara instinctive tertentu dan kita telah mempunyai arti untuk suara ini karena kita membuatnya.
D). Teori "YumYum" mengatakan manusia memberi respon fisik pada setiap stimulus. Sebagian dari respon fisik ini dilakukan mulut.
Berlo membuat asumsi yang terbaik tentang asal bahasa dalam pernyataan berikut :
1) bahasa sendiri atas suatu perangkat simbol-simbol yang berarti plus cara-cara yang
bermakna untuk mengkombinasikannya,
2) simbol dari suatu bahasa dipilih melalui kesempatan, bukan pemberian Tuhan,
3). menusia membangun bahasanya sendlri dengan prinsip yang sama tentang interprestasi, respon dan balasan yang dilakukan melalui belajar,
4). manusia lambat laun membentuk bahasanya dalam upaya mengekspresikan pengertian pada dirinya dan orang lain, membuat orang lain mempunyai pengertian yang sama, dan untuk menimbulkan respon yang akan menambah kemampuannya untuk mempengaruhi.

Fungsi bahasa adalah untuk mengekspresikan makna. Makna itu sendiri melekat pada semua definisi bahasa. Makna tidak terdapat di dalam pesan (message), tetapi berada pada orang. Makna pribadi sifatnya, yang berbeda dari satu orang dengan orang lainnya. Makna adalah sesuatu yang dipelajari. Merujuk pada Teori Pavlov, makna dapat dipelajari melalui keadaan (learning by condifioning) , dengan rasangan yang menghasilkan respon tertentu dalarn situasi yang bagaimanapun (unconditioned stimulus) dan rangsangan yang tidak mendatangkan respon tertentu (conditioned stimulus). Seperti telah disebutkan bahwa semua makna (meaning) terdapat pada orang, yang dipelajari dan oleh karenanya bersifat pribadi. Dalam kaitan ini Berlo membagi makna dalam empat dimensi: denotative, struktura, contextual dan connotative. Denotative Meaning Denotative meaning terdiri atas hubungan antara suatu tanda kata dan suatu tujuan yang ada dalam dunia fisika.
Bila kita menggunakan kata-kata dengan tanda-tanda, berarti kita mencoba menamil sesuatu yang ada di dunia fisik. Structural Meaning Makna struktur terdapat dalam hubungan suatu tanda dengan tanda lainnya. Dengan demikian makna ini terdapat dalam kenyataan formal. Kita mendapat makna dalam struktur ketika satu tanda membantu kita memperklrakan tanda lainnya. Contextual/Meaning Seseorang harus selalu mempertimbangkan makna dari konteks. Ini mungkin merupakan cara yang paling baik untuk membantu penerima pesan dalam mengartikan kata-kata baru.
Conotatlve Meaning Makna arti diartikan sebagai hubungan antara tanda, tujuan dan seseorang. Makna ini berorientasi pribadi, memberi perhatian pada kenyataan sosial. Makna ini berasal dari pengalaman pribadi seseorang yang menggunakan kata dan berhubungan dekat dengan siapa dan apa yang dia perankan.

Makna denotatif dan arti tidak berbeda dalam jenis; keduanya berbeda dalam tingkatan. Observasi dan Penilaian Observasl (pengamatan) adalah suatu kalimat yang dapat dinamakan sebagai sesuatu yang benar atau salah. Jika kita tidak dapat menentukan (sekarang atau nanti) suatu kalimat itu benar atau salah, maka kalimat itu bukan pernyataan suatu fakta.
Konsep "benar" oleh Aristoteles dikatakan : "mengatakan sesuatu secara apa adanya, atau tidak mengatakan yang tidak ada adalah sesuatu yang benar; mengatakan yang tidak ada, atau tidak mengatakan sesuatu yang ada, adalah sesuatu yang salah".
Dalam istilah lain, dapat dikatakan bahwa suatu kalimat itu benar apabila:
a). Mengatakan sesuatu tentang kejadian yang ada dalam dunia fisik (observasi)
b). Uraian kejadian yang ada di dunia adalah apa yang tertera dalam kalimat.

Verifikasl merupakan cara menguji observasi. Pernyataan fakta meliputi dua jenis kata:
1) kata-kata yang mempunyai makna denotative, dan
2) kata-kata yang mempunyai makna struktural. Sebagai ringkasan tentang Observasi dapat disebut bahwa:
a) observasi menekankan pada kata-kata yang mempunyai makna denotative,
b) observasi merupakan pernyataan kalimat fakta,
c) observasi dapat disebut benar atau salah,
d) observasi sulit dilakukan.

Sulitnya observasi dilakukan disebabkan:
1) keterbatasan kemampuan kita untuk melihat dan mengingat,
2) mempercayakan pada observasi orang lain, dan hasilnya salah,
3) membuat observasi hanya dengan pengertian kita dan
4) kita cenderung untuk menginterpretasi dan mengevaluasi apa yang dilihat, daripada melaporkannya.

Pendapat merupakan kalimat yang menekankan makna konotatif. Pendapat memberitahukan kita tentang kenyataan sosial, khususnya orang yang membentuk kehldupan sosial. Kemampuan menerima merupakan kriteria untuk menguji pendapat. Pendapat tidak merupakan observasi. Pendapat bermaksud untuk mendapatkan penerimaan sebuah ide, melahirkan perubahan perilaku, dan sebagainya. Observasi dan Pendapat: Persamaan dan Perbedaan.
Tujuan observesi adalah melaporkan; sedangkan tujuan pendapat untuk membujuk. Keduanya digunakan untuk mempengaruhi. Seperti halnya denotation dan connotation yang tidak saling bergantung, observasi dan pendapat juga tidak tergantung satu dengan lainnya. Terdapat dimensi pendapat dalam semua observasi, dalam menentukan persepsi yang ingin dibentuk dan bagaimana mengorganisir persepsi agar berhubungan dengan persepsi lainnya.

Pernyataan fakta terdapat dalam tujuan persuasif pernyataan tersebut mengarahkan perhatian, membangun persepsi, dan menyarankan suatu cara yang khusus dalam memandang realitas fisik. Semua bahasa yang diucapkan mempunyai dimensi persuasif. Dalam mewujudkan keinginannya untuk menafsirkan dunia fisik, manusia menginterpretasi kejadian-kejadian. Berbicara tentang implikasi satu kejadian terhadap kejadian lainnya, mencoba membuat kesimpulan tentang sesuatu yang belum diketahui membuat generalisasl tentang kejadian dan memperhatikan kejadian-kejadian yang akan datang.
Ketika membuat kesimpulan tersebut, manusia menyusun kalimat-kalimat yang belum diketahui berdasarkan kejadian lain yang sudah diketahui. Kesimpulan adalah hasil analisis hubungan struktural di antara kalimat. Berlo menyebut ada cara untuk membuat kesimpulan: deduksi dan induksi.

Deduksi adalah membuat kesimpulan secara umum untuk kemudian diterapkan secara khusus, sedangkan induksi membuat kesimpulan dari hal-hal yang khusus, untuk selanjutnya membuat kesimpulan secara urnum. Pada metode deduksi ada satu cara untuk menguji kesimpulan yang disebut dengan sylogisme. Cara ini membuat dua premis untuk kemudian dihubungkan, selanjutnya melahirkan kesimpulan. Contoh : Semua mahasiswa adalah manusia (Premis) Semua manusia dapat berbuat salah (Premis) Semua mahasiswa dapat berbuat salah (Kesimpulan) Dalam sylogisme, jika kedua premis benar dan argumennya valid, maka kesimpulan harus benar. Sylogisme adalah argumen mendasar. Meskipun konsep argumen merupakan suatu yang kompleks, pengertian dan aplikasi penguji sylogisme berguna jlka kita tertarik pada pesan yang argumentatif.

Induksi: pengembangan Generalisasi Struktur. Pada tingkat analisis ini, data dasarnya adalah pernyataan yang benar tentang fakta : pengamatan yang telah diuji kebenarannya. Asumsi dari proses Induksi ini adalah :
1) bahwa kejadian di dunia ini berlangsung secara kontinue
2) kelangsungan alam memungkinkan untuk mengganggu struktur kejadian-kejadian fisik yang teratur
3) berdasarkan adanya kontinuitas dan struktur, dapat diprediksikan bahwa kejadian mendatang akan sama dengan yang telah terjadi.
Generalisasi adalah pernyataan tentang keseluruhan, berdasarkan pengamatan pada suatu bagian. Dalam membuat kesimpulan semacam ini, sedikitnya diperlukan tiga pertanyaan :
1) apakah jumlah sampel yang diamati mewakili,
2) apakah bukti-bukti yang ada representatif, dan
3) adakah terjadi konflik dalam pembuktian fakta.

Metode deduksi maupun induksi, keduanya penting artinya dalam ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan adalah suatu proses yang meliputi :
a) mengorganisasikan persepsi dari dunia fisik untuk selanjutnya menyusunnya dalam definisi, b) membuat observasi berdasarkan definisi konseptual,
c) mengorganisasikan pengamatan tersebut dan membuat hipotesa,
d) menguji hipotesa dengan menerapkan prinsip-prinsip induksi, pendefinisian kembali, pengamatan kembali,dan seterusnya.